Harta Konglomerat RI Berkurang Awal 2026 Imbas Harga Saham Turun

1
Akbar Ridwan 26/02/2026 17:28 WIB
Image Loader
Memuat...
Harta Kekayaan Konglomerat di Indonesia (6 Januari-25 Februari 2026)
databoks logo
  • A Kecil
  • A Sedang
  • A Besar

Harta kekayaan konglomerat di Indonesia tergerus pada awal 2026, terpengaruh amblesnya harga saham emiten milik mereka di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal ini terjadi seiring dengan kejatuhan IHSG pada 28 Januari 2026, setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menangguhkan penilaian indeks terkait saham Indonesia karena masalah transparansi data.

(Baca: Usai Pengumuman MSCI, 10 Saham Ambles 27% Lebih dalam Dua Hari)

Menurut data Forbes Billionaires yang diolah Katadata.co.id, penurunan kekayaan terbesar dialami Prajogo Pangestu.

Pada 6 Januari 2026, harta pemilik Grup Barito tersebut masih sekitar US$37,8 miliar. Kemudian pada 25 Februari 2026, hartanya menjadi US$29 miliar, ambles 23,28%.

Hal ini dipengaruhi penurunan harga saham emiten milik Prajogo di BEI, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).

Merujuk data BEI per tanggal 24 Februari 2026, harga saham BREN anjlok 14,52% dibanding sebulan sebelumnya (month-to-month/mtm), kemudian BRPT turun 21,62% (mtm), dan CDIA turun 22,26% (mtm).

Taipan lain yang mengalami penurunan kekayaan signifikan adalah Low Tuck Kwong.

Selama periode 6 Januari—25 Februari 2026, harta pemilik PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Samindo Resources Tbk (MYOH) ini turun 14,70% dari US$23,8 miliar menjadi US$20,3 miliar.

Dalam periode serupa, harta pemilik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Hartono, masing-masing turun menjadi US$19,7 miliar dan US$18,9 miliar.

(Baca: 20 Emiten Top Losers di BEI Sepanjang Januari 2026)

Editor : Adi Ahdiat

Data Populer

Loading...