Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Kuningan pada tahun 2024 mencapai 115.834 Rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 7,9 persen dibandingkan tahun 2023, dengan selisih penurunan mencapai 9.899 Rupiah per orang setiap bulannya. Sepanjang periode 2018 hingga 2024, data menunjukkan pergerakan nilai yang terus berubah setiap tahun tanpa pola stagnan.
(Baca: Statistik Jumlah Pekerja di Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Kategori Lapangan Pekerjaan Utama di Periode 2015-2025)
Sepanjang tujuh tahun pengamatan, pengeluaran tertinggi untuk kategori rokok dan tembakau di wilayah ini tercatat pada tahun 2021 dengan nilai 133.474 Rupiah per kapita per bulan. Setelah tahun tersebut, nilai mengalami penurunan sedikit pada tahun 2022, naik sedikit pada tahun 2023, lalu kembali turun pada tahun 2024. Kenaikan tertinggi dalam periode ini terjadi pada tahun 2020 dengan pertumbuhan 24,8 persen dari tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan pengeluaran bulanan masyarakat, nilai pengeluaran rokok dan tembakau ini setara dengan 47 persen dari pengeluaran untuk makanan jadi, 231 persen dari pengeluaran untuk kecantikan, dan 257 persen dari pengeluaran untuk perawatan pribadi per kapita. Nilai ini juga mencapai 47 persen dari total rata-rata pengeluaran aneka barang dan jasa bulanan masyarakat Kabupaten Kuningan.
Berdasarkan peringkat seprovinsi Jawa Barat, Kabupaten Kuningan menempati urutan ke 25 dari 27 kabupaten dan kota untuk kategori pengeluaran rokok dan tembakau tahun 2024. Hanya Kota Banjar dan Kabupaten Majalengka yang mencatat nilai pengeluaran lebih rendah dibandingkan Kabupaten Kuningan pada tahun yang sama. Secara nasional, wilayah ini berada di peringkat 363 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia.
Lima kabupaten kota dengan pengeluaran rokok dan tembakau tertinggi di Jawa Barat tahun 2024 secara berurutan adalah Kota Bekasi, Kota Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Indramayu. Kota Bekasi mencatat nilai tertinggi sebesar 196.516 Rupiah dengan pertumbuhan 22,3 persen dari tahun sebelumnya, menjadi satu-satunya wilayah di urutan lima teratas yang mencatat pertumbuhan di atas 10 persen. Seluruh urutan lima teratas ini tidak mengalami perubahan peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pengeluaran Makanan Per Kapita
(Baca: Angka Partisipasi Kasar Periode 2013-2025)
Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran makanan per kapita bulanan Kabupaten Kuningan pada tahun 2024 mencapai 627.714 Rupiah, dengan pertumbuhan sedikit sebesar 1 persen dari tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati urutan ke 26 dari 27 kabupaten kota di Jawa Barat untuk kategori ini, hanya lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Bandung Barat. Pertumbuhan nilai pengeluaran makanan di Kabupaten Kuningan termasuk paling rendah seprovinsi, dimana rata-rata pertumbuhan seluruh wilayah Jawa Barat untuk kategori ini mencapai 14,2 persen.
Pengeluaran Bukan Makanan Per Kapita
Untuk kategori pengeluaran bukan makanan, Kabupaten Kuningan mencatat nilai 534.190 Rupiah per kapita per bulan pada tahun 2024. Nilai ini tumbuh sebesar 11,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempatkan wilayah ini di urutan ke 23 seprovinsi Jawa Barat. Nilai pengeluaran bukan makanan di Kabupaten Kuningan hanya mencapai 28 persen dari nilai pengeluaran bukan makanan Kota Bekasi yang menjadi yang tertinggi di provinsi ini pada tahun 2024.
Total Pengeluaran Masyarakat
Total pengeluaran per kapita bulanan gabungan makanan dan bukan makanan di Kabupaten Kuningan tahun 2024 tercatat sebesar 1.161.904 Rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 6,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempati urutan ke 25 dari seluruh kabupaten kota di Jawa Barat. Dari seluruh wilayah di Jawa Barat, hanya Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut yang mencatat total pengeluaran per kapita lebih rendah dibandingkan Kabupaten Kuningan pada tahun ini.
Perbandingan Pertumbuhan Antar Wilayah
Sepanjang tahun 2024, hampir seluruh wilayah di Jawa Barat mencatat penurunan total pengeluaran per kapita, namun Kabupaten Kuningan mencatat penurunan yang lebih besar dibandingkan rata-rata provinsi. Sementara untuk kategori pengeluaran rokok dan tembakau, 15 dari 27 wilayah di Jawa Barat juga mencatat penurunan pada tahun yang sama, dengan penurunan terbesar terjadi di Kota Bogor sebesar 17,1 persen. Informasi seluruh data ini diolah dari data Susenas Badan Pusat Statistik.