420 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 12 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 420 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 94 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (12/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 420 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 395 titik skala sedang, dan 15 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Titik Panas Karhutla di Sumsel Bertambah pada Pertengahan Oktober 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 184 titik. Kepulauan Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 32 titik. Jambi berada di posisi ketiga sebanyak 31 titik panas.
Sebanyak 27 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Aceh menyusul dengan 19 titik panas, serta Maluku Utara dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 16 dan 16 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Indikasi Luas Karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah dalam Sedekade Terakhir)