Memasuki tahun 2026, ada banyak mata uang Asia yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dari 14 negara Asia yang dipantau AsianBondsOnline, penurunan nilai mata uang terjadi di 9 negara.
Negara Asia yang nilai mata uangnya turun paling dalam awal tahun ini adalah Korea Selatan.
Selama periode 31 Desember 2025—12 Januari 2026, nilai tukar won Korea Selatan terhadap dolar AS turun 1,61% (year-to-date/ytd).
Nilai tukar rupiah Indonesia juga turun cukup dalam dengan tingkat depresiasi 0,91% (ytd) sampai 12 Januari 2026, menjadikannya paling lemah ke-2 dari 14 negara Asia yang dipantau.
Negara Asia lain yang mata uangnya melemah adalah Jepang, Filipina, Kamboja, Hong Kong, Malaysia, Singapura, dan Brunei.
Sedangkan penguatan mata uang hanya terjadi di 5 negara, yaitu Thailand, China, Vietnam, Myanmar, dan Laos.
Menurut Michael Wan, analis dari MUFG Research, penurunan nilai mata uang Asia awal tahun ini umumnya dipengaruhi oleh harga minyak dan gejolak geopolitik.
"Mata uang Asia mungkin telah terdampak negatif oleh kenaikan harga minyak baru-baru ini, termasuk perkembangan di Venezuela dan Iran," kata Michael Wan dalam laporan Asia FX Talk - Oil Prices Rise on Geopolitical Risks (13/1/2026).
Berikut daftar lengkap persentase peningkatan/penurunan nilai mata uang di sejumlah negara Asia periode 31 Desember 2025—12 Januari 2026, diurutkan dari yang paling kuat:
- Baht Thailand: 0,83% (ytd)
- Yuan China 0,23% (ytd)
- Dong Vietnam 0,1% (ytd)
- Kyat Myanmar 0,08% (ytd)
- Kip Laos 0,04% (ytd)
- Dolar Brunei -0,03% (ytd)
- Dolar Singapura -0,03% (ytd)
- Ringgit Malaysia -0,09% (ytd)
- Dolar Hong Kong -0,17% (ytd)
- Riel Kamboja -0,22% (ytd)
- Peso Filipina -0,53% (ytd)
- Yen Jepang -0,9% (ytd)
- Rupiah Indonesia -0,91% (ytd)
- Won Korea Selatan -1,61% (ytd)
(Baca: Awal 2026, Dolar AS Kian Menguat di Hadapan Rupiah)