Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sebesar Rp16.870 pada penutupan perdagangan Selasa (3/3/2026).
Nilai itu melemah 0,13% dibanding penutupan pada Senin (2/3/2026) yang sebesar Rp16.848.
Selama tiga hari beruntun atau sejak 27 Februari 2026, rupiah mengalami pelemahan. Padahal, dua penutupan perdagangan sebelumnya sempat menguat, seperti terlihat pada grafik.
Penurunan nilai tukar beriringan dengan meletusnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran sejak 28 Februari 2026. Serangan itu bahkan menewaskan Imam Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
(Baca: Perang AS-Israel dengan Iran Makan Korban di Banyak Negara)
Tingginya tensi geopolitik diprediksi berimbas terhadap perekonomian internasional dan nasional, dari nilai tukar mata uang, harga minyak, emas, hingga pasar modal.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang masih risk off pada umumnya oleh eskalasi di timur Tengah,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata, Selasa (3/3/2026).
Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang 16.800-16.950 per US$.
Di tengah risiko pelemahan rupiah, Lukman berharap Bank Indonesia (BI) kembali aktif mengintervensi dan membatasi perlemahan rupiah saat ini.
BI sebelumnya memastikan akan menjaga nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamentalnya di tengah meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global usai serangan Amerika Serikat ke Iran.
"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Erwin Gunawan Hutapea dalam siaran pers, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah usai serangan AS ke Iran mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global.
Ia pun memastikan BI akan selalui hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," ujar Erwin.
(Baca Katadata: Rupiah Berpotensi Melemah Imbas Perang Iran)