Menurut data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sebesar Rp16.838 pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026).
Nilai tukar itu menguat 0,37% dari penutupan pada Kamis (22/1/2026) yang sebesar Rp16.902.
Penutupan perdagangan pada hari ini menandai penguatan ketiga kalinya setelah sempat ambruk selama sepekan terakhir.
Tercatat, nilai tukar pada 15/1/2026 sebesar Rp16.880, pada 19/1/2026 sebesar Rp16.935, dan 20/1/2026 sebesar Rp16.981.
(Baca: Rupiah Jadi Mata Uang yang Paling Lemah di Asia (21 Januari 2026))
Meski menguat, nilai tukar pada penutupan hari ini sudah melemah 0,67% yang mencatatkan Rp16.725 per US$ sejak awal tahun ini (year-to-date/ytd).
Sinyal penguatan rupiah sudah mucul sejak tadi pagi. Melansir Katadata, Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, ini karena pasar optimistis menilai pemerintah mampu mengatasi praktik under-invoicing impor dan ekspor serta bisa menutup defisit anggaran negara.
“Isu under-invoicing ekspor sebenarnya sudah lama terjadi, namun baru ramai akhir-akhir ini. Setelah terjadi defisit anggaran dalam APBN yang mendekati 3% tahun 2025, sehingga membuat mata uang rupiah terus terkontraksi,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).
Di sisi lain, kondisi global yang membuat dolar AS melemah yakni pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mundur dari ancaman tarif Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland.
(Baca: Rupiah Terguncang, BI Tetap Tahan Suku Bunga 4,75% Awal 2026)
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Trump menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif atau tindakan militer atas Greenland.
“Trump juga mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan. Harga emas ditutup di level $4.830, naik sebesar 1,4%,” kata dia.
Trump bahkan memperingatkan jika tidak mendapatkan kesepakatan mengenai Greenland, ia akan mempertimbangkan tanggapan Eropa terhadap tuntutannya.
Mengutip Bloomberg, Ibrahim menyebut Trump akan mundur dari pemberlakuan tarif pada barang-barang dari negara-negara Eropa yang menentang upayanya untuk mengambil alih Greenland.
(Baca Katadata: Rupiah Balik Arah Pagi Ini, Menguat Mengikuti Kondisi Geopolitik AS-Greenland)