Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Mandiri Institute menunjukkan, jumlah kelas menengah Indonesia kembali mengalami penurunan pada 2025.
Angkanya, dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025. Penurunannya hingga 1,1 juta orang atau 2,5%.
Tim riset menghitung, penurunan jumlah kelas menengah ini pun sudah terjadi pada 2024 dari 2023, sebanyak 400 ribu orang.
Kontradiktif dengan kelas menengah, calon kelas menengah atau aspiring middle class justru naik 4,5 juta orang menjadi 142 juta orang pada 2025.
"Ini menandakan tekanan pada kelas menengah masih terjadi," kata Mandiri Institute di laman Instagram resminya, Jumat (6/2/2026).
Menurut tim riset, hal tersebut juga tercermin dari konsumsi kelas menengah hanya tumbuh 4,1%, lebih rendah dari pertumbuhan konsumsi per kapita nasional sebesar 4,6%.
(Baca: Mayoritas Kelas Menengah RI Punya Cicilan pada 2025, Ini Jenisnya)
Berikut jumlah penduduk Indonesia berdasarkan kelas pada 2024-2025:
- Miskin
2024: 25,2 juta orang
2025: 23,9 juta orang
Perubahan: -1,4 juta orang
- Rentan
2024: 67,7 juta orang
2025: 67,9 juta orang
Perubahan: +0,2 juta juta orang
- Calon kelas menengah
2024: 137,5 juta orang
2025: 142 juta orang
Perubahan: +4,5 juta orang
- Kelas menengah
2024: 47,9 juta orang
2025: 46,7 juta orang
Perubahan: -1,1 juta juta orang
- Kelas atas
2024: 1,1 juta orang
2025: 1,2 juta juta orang
Perubahan: 0,1 juta orang.
(Baca: Kebijakan Pemerintah yang Bisa Mendukung Daya Beli Menurut Kelas Menengah)
Pembagian kelas ekonomi tersebut mengikuti definisi World Bank, berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan relatif terhadap garis kemiskinan.
Ini artinya, ukuran kelas bukan pakai pendapatan, tapi berapa kali lipat pengeluaran seseorang dibanding garis kemiskinan. Rinciannya:
- Miskin: < 1x garis kemiskinan
- Rentan: 1–1,5x garis kemiskinan
- Calon kelas menengah (AMC): 1,5–3,5x garis kemiskinan
- Kelas menengah: 3,5–17x garis kemiskinan
- Kelas atas: >17x garis kemiskinan.
(Baca: Kisaran Pengeluaran Kelas Menengah RI untuk Gaya Hidup pada 2025)