Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Mandiri Institute menunjukkan, pertumbuhan konsumsi per kapita di kelas ekonomi menengah Indonesia tercatat paling rendah dibanding kelas lainnya.
Pada 2025, pertumbuhannya hanya 4,1% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Sementara, kelas atas tercatat tumbuh paling tinggi, yakni 6,8% (yoy). Disusul kelas rentan miskin (5%), calon kelas menengah (4,8%), dan miskin (4,7%).
"Konsumsi kelas menengah ditopang non-makanan, tetapi cenderung lifestyle-driven," tulis Mandiri Institute di akun Instagram resminya, Jumat (6/2/2026).
(Baca: Mandiri Institute: Jumlah Kelas Menengah Indonesia Turun pada 2025)
Pertumbuhan tertinggi didorong oleh pengeluaran transportasi sebesar 22,5% (yoy). Kata Mandiri Institute, ini sejalan dengan perilaku mobilitas libur jarak pendek masyarakat sepanjang 2025.
Sementara, pengeluaran kelas menengah untuk komoditas bukan makanan tumbuh resilien di level 6,4% pada 2025, lebih tinggi dari 2024 yang sebesar 3,2%.
"Namun, pendorong utama masih terkait pengeluaran gaya hidup," tulis Mandiri Institute.
Dari banyaknya barang tahan lama yang dibeli kelas menengah, handphone mengalami pertumbuhan tertinggi, yakni 31,2% (yoy). Lalu ada barang elektronik (26,2%) dan perhiasan (25%).
(Baca: Kebijakan Pemerintah yang Bisa Mendukung Daya Beli Menurut Kelas Menengah)
Pembagian kelas ekonomi tersebut mengikuti definisi World Bank, berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan relatif terhadap garis kemiskinan.
Ini artinya, ukuran kelas bukan pakai pendapatan, tapi berapa kali lipat pengeluaran seseorang dibanding garis kemiskinan. Rinciannya:
- Miskin: < 1x garis kemiskinan
- Rentan: 1–1,5x garis kemiskinan
- Calon kelas menengah (AMC): 1,5–3,5x garis kemiskinan
- Kelas menengah: 3,5–17x garis kemiskinan
- Kelas atas: >17x garis kemiskinan.
(Baca: Kisaran Pengeluaran Kelas Menengah RI untuk Gaya Hidup pada 2025)