Hasil olah data Mandiri Institute dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, terdapat lima kelas ekonomi penduduk Indonesia dengan proporsi yang beragam sepanjang 2019-2025.
Dari kelima kelas itu, calon kelas menengah atau aspiring middle class menjadi yang terbanyak dengan proporsi di rentang 48%-50% dari total penduduk Indonesia per tahunnya.
Berikut rincian rentang proporsi penduduk berdasarkan kelas ekonomi per tahun pada 2019-2025 yang diolah Mandiri Institute:
- Kelas atas (upper class): 0,3%-0,5%
- Kelas menengah (middle class): 16%-21%
- Calon kelas menengah (aspiring middle class): 48%-50%
- Rentan miskin (vulnerable): 20%-24%
- Kelas miskin (poor): 8%-9%.
(Baca: Mandiri Institute: Jumlah Kelas Menengah Indonesia Turun pada 2025)
Pada 2025, hanya kelas menengah dan miskin yang turun, masing-masing 1,1 juta orang dan 1,4 juta orang.
Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah justru naik signifikan hingga 4,5 juta orang.
Tim riset menyebut, penurunan jumlah penduduk kelas menengah sudah terjadi selama beberapa tahun belakangan yang juga dapat dilihat pada grafik.
"Ini menandakan tekanan pada kelas menengah masih terjadi," kata Mandiri Institute di akun Instagram resminya, Jumat (6/2/2026).
Menurut tim riset, hal tersebut juga tercermin dari konsumsi kelas menengah hanya tumbuh 4,1%, lebih rendah dari pertumbuhan konsumsi per kapita nasional sebesar 4,6%.
(Baca: Pertumbuhan Konsumsi Kelas Menengah Paling Rendah pada 2025)
Pembagian kelas ekonomi tersebut mengikuti definisi World Bank, berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan relatif terhadap garis kemiskinan.
Ini artinya, ukuran kelas bukan pakai pendapatan, tapi berapa kali lipat pengeluaran seseorang dibanding garis kemiskinan. Rinciannya:
- Miskin: < 1x garis kemiskinan
- Rentan: 1–1,5x garis kemiskinan
- Calon kelas menengah (AMC): 1,5–3,5x garis kemiskinan
- Kelas menengah: 3,5–17x garis kemiskinan
- Kelas atas: >17x garis kemiskinan.
(Baca: Kebijakan Pemerintah yang Bisa Mendukung Daya Beli Menurut Kelas Menengah)