KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 115 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 19 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 115 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 30 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (19/2/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 115 titik panas terdeteksi, 5 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 95 titik skala sedang, dan 15 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Lima Gempa Bumi Terakhir yang Tercatat di BMKG (Sabtu, 19 Juli 2025 13:53:43 WIB))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Sulawesi Tengah sebanyak 46 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 30 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 14 titik panas.
Sebanyak 8 titik panas terdeteksi di Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan menyusul dengan 7 titik panas, serta Kalimantan Barat dan Papua masing-masing memiliki 3 dan 2 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.