Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 20-21 Januari 2026 menetapkan untuk menahan suku bunga acuan sebesar 4,75%.
Sejalan dengan itu, suku bunga deposit facility tetap sebesar 3,75% dan suku bunga lending facility 5,50%.
Penahanan suku bunga ini terjadi saat nilai tukar rupiah terguncang.
Dalam konferensi pers BI yang diwartakan Katadata, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, nilai tukar rupiah pada Selasa (20/1/2026) bertengger di level 16.945 per dolar AS, melemah 1,53% sepanjang tahun ini.
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkat ketidakpastian di pasar keuangan global dan kenaikan permintaan valas sejalan dengan kegiatan ekonomi.
"Guna menjaga stabilitas ini, BI akan meningkatkan intensitas langkah-langkah stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar offsore maupun onshore," kata Perry.
Ihwal kurs rupiah, pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi membeberkan sejumlah faktor yang melatarbelakangi pelemahannya.
Faktor itu di antaranya ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.
Faktor eksternal lainnya, seperti perkembangan pemanggilan Gubernur The Fed Jerome Powell oleh Kejaksaan Agung, spekulasi suku bunga The Fed, hingga data terbaru Amerika Serikat soal data ketenagakerjaan turut menekan rupiah.
"Pelemahan rupiah memang karena banyak permasalahan yang sudah komplikasi, baik eksternal maupun internal," ujar Ibrahim, Selasa (20/1).
Sementara dari sisi internal, menurut dia, pelaku pasar mengkhawatirkan kondisi defisit fiskal yang mendekati 3% terhadap PDB pada akhir tahun lalu. Investor khawatir, tekanan terhadap penerimaan pajak masih akan terjadi dan berpotensi membuat defisit fiskal melebar.
"Sedangkan terkait pencalonan Thomas Djiwandono sebagai calon deputi BI memberikan pengaruh ke pelemahan rupiah, tetapi tidak besar," ujar dia.
(Baca Katadata: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75% di Tengah Tersungkurnya Rupiah)