Menurut data International Energy Agency (IEA), ada 19,87 juta barel minyak per hari yang dikirim melalui Selat Hormuz sepanjang tahun 2025.
Dari jumlah tersebut, pengiriman yang tujuannya tercatat sebanyak 19,10 juta barel minyak per hari.
Pada 2025, ekspor minyak via Selat Hormuz paling banyak dikirim ke China, dengan proporsi 28,3% dari total pengiriman yang tercatat.
Tujuan pengiriman berikutnya adalah India (14,7%), negara-negara di kawasan Eropa (5,8%), kawasan Afrika (4,2%), kawasan Amerika (3,7%), dan negara-negara lain di kawasan Asia (43,5%).
Berikut rincian volume pengiriman minyak via Selat Hormuz ke negara/kawasan tujuan yang tercatat pada tahun 2025 (gabungan minyak mentah, kondensat, dan produk hasil minyak):
- China: 5,4 juta barel per hari
- India: 2,8 juta barel per hari
- Eropa: 1,1 juta barel per hari
- Afrika: 0,8 juta barel per hari
- Amerika: 0,7 juta barel per hari
- Asia lainnya: 8,3 juta barel per hari
Jika digabung, volume pengiriman minyak via Selat Hormuz ke seluruh kawasan Asia yang tercatat pada 2025 mencapai 16,5 juta barel per hari, setara 86,4% dari total pengiriman tercatat.
"Sebagian besar minyak yang keluar dari Selat Hormuz menuju ke negara-negara Asia, dengan China, India, dan Jepang sebagai importir utama," kata IEA dalam Strait Hormuz Factsheet (Februari 2026).
(Baca: Selat Hormuz, Jalur Perdagangan Minyak Terbesar Kedua di Dunia)
Meski minyak dari Selat Hormuz banyak dikirim ke Asia, gangguan pasokan dari selat ini bisa berpengaruh secara global.
"Besarnya volume minyak yang diekspor melalui Selat Hormuz, dan terbatasnya pilihan jalur lain, menjadikan setiap gangguan di selat ini berdampak besar bagi pasar minyak dunia," kata IEA.
"Biarpun sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia, dampak gangguan di selat tersebut akan bersifat global karena berimbas langsung pada harga minyak," lanjutnya.
(Baca: Sehari Perang, Pengiriman Minyak di Selat Hormuz Berkurang 86%)