Emiten bank besar di Indonesia telah melaporkan kinerja keuangan pada kuartal I 2026 kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bank besar itu merujuk perseroan yang mengantongi aset hinga kapitalisasi pasar yang besar. Mereka di antaranya, BRI, Mandiri, BNI, BCA, dan BTN.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang dikompilasi Databoks, laba seluruh bank tersebut tumbuh positif.
Laba bersih terbesar pada kuartal I 2026 dikantongi BRI yang menyabet Rp15,49 triliun. Nilainya cukup rapat dengan Mandiri yang mengantongi Rp15,38 triliun, duduk di posisi kedua.
Sementara, laba terendah dikantongi BTN yang sebesar Rp1,1 triliun.
(Baca: 5 Bank Kakap RI Setor Kinerja Keuangan 2025, Laba Siapa Tertinggi?)
Berikut pendapatan dan laba bersih lima bank terbesar di Indonesia menurut laporan keuangan masing-masing perusahaan kepada BEI pada kuartal I 2026:
BRI melaporkan, perusahaan menyabet laba bersih sebesar Rp15,49 triliun pada kuartal I 2026.
Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk itu melesat 13,73% dari kuartal I 2025 (year-on-year/yoy) yang sebesar Rp13,62 triliun.
Kinerja positif emiten berkode BBRI itu ditopang dari pendapatan yang juga meningkat 5,94% (yoy). Pada kuartal I 2025, pendapatan BRI tercatat sebesar Rp49,87 triliun, naik menjadi Rp52,83 triliun pada kuartal I 2026.
Bank Mandiri membukukan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp15,38 triliun pada kuartal I 2026. Angkanya tumbuh 16,57% secara tahunan.
Meskipun begitu, pendapatan bunga, syariah, dan asuransi neto emiten bersandi BMRI ini terkoreksi 2,3% (yoy) menjadi Rp25,34 triliun pada periode ini.
BCA membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp14,68 triliun pada kuartal I 2026.
Laba tersebut tumbuh 3,80% (yoy) dibanding kuartal I 2025 yang sebesar Rp14,15 triliun.
Sepanjang kuartal pertama 2026, pendapatan bunga bersih dan syariah bank bersandi BBCA ini sebesar Rp21,11 triliun, turun 0,05% (yoy).
BNI melaporkan, perusahaan meraup laba bersih sebesar Rp5,66 triliun pada kuartal I 2026.
Laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk itu naik 5,2% (yoy) yang sebesar Rp5,38 triliun.
Pertumbuhan laba sejalan dengan pendapatannya. Pada tiga bulan awal 2026, emiten bersandi BBNI tersebut mengantongi pendapatan bunga bersih sebesar Rp11,02 triliun, naik 12,11% (yoy).
BTN membukukan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp1,11 triliun pada kuartal I 2026.
Nilai tersebut melonjak 22,60% dibanding laba kuartal I tahun lalu (yoy).
Sementara, total pendapatan emiten berakronim BBTN sepanjang kuartal I 2026 turun 2,41% (yoy) menjadi Rp8,01 triliun.
(Baca: 10 BUMN Penyumbang Dividen Terbesar untuk Negara pada 2024)