PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membukukan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp1,11 triliun pada kuartal I 2026.
Nilai tersebut melonjak 22,60% dibanding laba kuartal I tahun lalu (year-on-year/yoy).
Sementara, total pendapatan BBTN sepanjang kuartal I 2026 turun 2,41% (yoy) menjadi Rp8,01 triliun.
Pendapatan tersebut bersumber dari bagi hasil bunga Rp6,91 triliun, serta bagi hasil dan margin unit syariah Rp1,10 triliun.
Namun, total beban bunga, bagi hasil, dan bonus BBTN menyusut 14,90% (yoy) menjadi Rp3,77 triliun.
Dengan demikian, pendapatan neto BBTN per akhir kuartal I 2026 mencapai Rp4,24 triliun, bertambah 12,26% (yoy).
Per 31 Maret 2026, total aset bank pelat merah ini mencapai Rp517,54 triliun, turun 1,94% dibanding posisi 31 Desember 2025.
Asetnya terdiri atas liabilitas Rp450,80 triliun, dana syirkah temporer Rp29,98 triliun, dan ekuitas Rp36,77 triliun.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan capaian kuartal I 2026 ditopang langkah transformasi, inovasi, dan dukungan pemerintah untuk industri pembiayaan perumahan nasional.
Menurutnya, BTN terus mendukung masyarakat memiliki hunian dengan menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) sekitar 6 juta unit sejak 1976 hingga awal April 2026, yang nilai totalnya Rp530 triliun.
"Dari 6 juta rumah tersebut, jika satu rumah 4 orang, maka total ada 24 juta orang yang akhirnya bisa memiliki rumah layak huni," kata Nixon dalam siaran pers, Rabu (15/4/2026).
(Baca: Top 5 Bank RI dengan Aset Terjumbo pada 2025, Mandiri Teratas)