PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp14,68 triliun pada kuartal I 2026.
Laba tersebut tumbuh 3,80% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding kuartal I 2025 yang sebesar Rp14,15 triliun.
(Baca: Top 5 Bank RI dengan Aset Terjumbo pada 2025, Mandiri Teratas)
Sepanjang kuartal pertama 2026, pendapatan bunga perseroan mencapai Rp24,34 triliun, sementara pendapatan syariah dari bagi hasil Rp251,92 miliar.
Pendapatan bunga BCA ditopang segmen kredit yang diberikan sebesar Rp16,63 triliun dan efek-efek untuk tujuan investasi Rp6,22 triliun.
Kemudian segmen piutang pembiayaan konsumen dan piutang sewa pembiayaan Rp853,53 miliar, serta pendapatan pada Bank Indonesia dan bank-bank lain Rp121,36 miliar.
Lalu pendapatan bunga segmen efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali Rp174,36 miliar, wesel tagih Rp150,59 miliar, dan segmen lainnya Rp194,19 miliar.
Adapun total beban bunga dan syariah mencapai Rp3,48 triliun. Dengan demikian, pendapatan bersih bunga dan syariah BCA kuartal I 2026 sebesar Rp21,11 triliun, turun 0,05% (yoy).
Per 31 Maret 2026, BCA membukukan total aset Rp1,64 kuadriliun, naik 3,40% dibanding posisi 31 Desember 2025.
Asetnya terdiri atas liabilitas Rp1,37 kuadriliun, dana syirkah temporer Rp11,11 triliun, dan ekuitas Rp259,36 triliun.
(Baca: 5 Bank Kakap RI Setor Kinerja Keuangan 2025, Laba Siapa Tertinggi?)