PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk alias BRI melaporkan, perusahaan menyabet laba bersih sebesar Rp15,49 triliun pada kuartal I 2026.
Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk itu melesat 13,73% dari kuartal I 2025 (year-on-year/yoy) yang sebesar Rp13,62 triliun.
Kinerja positif itu ditopang dari pendapatan yang juga meningkat 5,94% (yoy). Pada kuartal I 2025, pendapatan BRI tercatat sebesar Rp49,87 triliun, naik menjadi Rp52,83 triliun pada kuartal I 2026.
Rincian pendapatan pada kuartal I 2026 itu di antaranya, pendapatan bunga sebesar Rp49,13 triliun dan pendapatan syariah Rp3,7 triliun.
Dalam laporan Katadata, emiten berkode BBRI itu menyalurkan kredit sebesar Rp1.562 triliun sepanjang kuartal I 2026. Dari total tersebut, BRI merealisasikan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp47,09 triliun.
Sementara, pembiayaan melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) mencapai Rp17,13 triliun yang disalurkan kepada sekitar 125 ribu debitur.
Adapun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4%. Kemudian untuk loan to deposit ratio (LDR) perseroan meningkat menjadi 87,66% per kuartal I 2026 dengan dana murah atau current account dan saving account (CASA) pada level 68,1% sepanjang tiga bulan pertama 2026.
Pencapaian DPK tersebut ditopang oleh CASA yang tumbuh dari Rp934,9 triliun di triwulan I 2025 menjadi Rp 1.058,6 triliun atau naik 13,2% (yoy).
(Baca: 10 BUMN Penyumbang Dividen Terbesar untuk Negara pada 2024)
“Kondisi perbankan nasional secara umum masih tetap solid dengan intermediasi yang kuat, lukiditas yang terjaga, serta risiko yang terkendali sehingga memberikan ruang bagi ekspansi perbankan yang tetap prudent ke depan,” kata Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (30/4/2026).
Penyaluran kredit dan pembiayaan juga menunjukkan pertumbuhan, dengan total kredit dan pembiayaan meningkat sebesar 13,7% secara tahunan menjadi Rp1.562 triliun.
Hery mengatakan, segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Dari sisi operasional, BRI juga mencatat kinerja yang solid. Pre-provision operating profit (PPOP) pada kuartal I 2026 tumbuh 7,7% secara tahunan menjadi Rp32,2 triliun.
Hery menyebut margin dan kualitas aset BRI mulai menunjukkan tren perbaikan. Dari sisi kualitas aset, rasio loan at risk (LAR) turun dari 11,1% pada kuartal I 2025 menjadi sekitar 9,7% pada kuartal I 2026.
Baginya, penurunan ini mencerminkan risiko dalam portofolio kredit yang semakin terkendali, seiring penguatan manajemen risiko serta penyaluran kredit yang lebih selektif. Di sisi pendanaan, biaya dana (cost of fund) juga membaik, turun dari 3% pada tahun lalu menjadi 2,3% pada kuartal I 2026.
“Ini menunjukkan efektivitas strategi BRI dalam memperkuat CASA dan mengelola struktur pendanaan yang lebih sehat dan lebih efisien, sehingga memberikan ruang yang lebih baik bagi margin ke depan,” ungkapnya.
(Baca Katadata oleh Nur Hana Nabila: Laba BRI (BBRI) Melonjak 13,7%, Apa Saja Pundi-Pundi Kinerja di Kuartal I 2026?)