Perang Amerika Serikat-Israel versus Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 memicu kenaikan harga energi, yang kemudian mendorong naiknya harga pangan global.
Hal ini terlihat dari laporan World Food Situation edisi April 2026 yang dirilis Food and Agriculture Organization (FAO).
(Baca: Sebulan Perang AS-Israel vs Iran, Harga Minyak Mentah Naik Hampir 50%)
Setiap bulan, FAO rutin membuat Food Price Index atau indeks harga pangan untuk mengukur perubahan rata-rata harga bahan makanan pokok secara global.
Dengan asumsi perhitungan tahun dasar 2014–2016 = 100 poin, FAO menemukan indeks harga pangan global pada Maret 2026 mencapai 128,5 poin.
Indeks pada Maret 2026 ini naik 2,4% dibanding sebulan sebelumnya (month-to-month/mtm), serta menjadi level tertinggi sejak awal tahun.
"Indeks harga di seluruh kelompok komoditas—yaitu sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula—naik dengan tingkat yang berbeda-beda," kata FAO dalam laporannya.
"Ini tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental pasar, tapi juga merupakan respons terhadap kenaikan harga energi yang terkait dengan eskalasi konflik di Timur Tengah," lanjutnya.
Meski ada kenaikan, indeks harga pangan global pada Maret 2026 belum setinggi tahun 2022, seperti saat Rusia menyerang Ukraina. Ketika itu, indeksnya sempat mencapai 160 poin, seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Sebulan Perang, Harga Pupuk Urea Global Melonjak pada Maret 2026)
Jika diperinci berdasarkan komoditas, kenaikan paling tinggi terjadi pada gula, yang indeks harganya naik 7,2% (mtm) pada Maret 2026.
"Peningkatan harga gula pada bulan Maret sebagian besar dipengaruhi harga minyak mentah internasional yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa Brasil, eksportir gula terbesar di dunia, akan lebih bergantung pada etanol berbasis tebu selama panen mendatang," kata FAO.
Kenaikan cukup besar juga terjadi pada minyak nabati, yang indeks harganya naik 5,1% (mtm) pada Maret 2026. Indeks ini didorong kenaikan harga minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed.
"Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan melampaui minyak kedelai, sebagian besar mencerminkan efek dari kenaikan tajam harga minyak mentah, ditambah perkiraan produksi Malaysia yang lebih rendah dari ekspektasi," kata FAO.
Sementara, kenaikan indeks harga komoditas pangan lainnya pada Maret 2026 relatif lebih ringan, yakni sereal naik 1,5% (mtm), produk susu naik 1,2% (mtm), dan daging naik 1% (mtm).
(Baca: 20 Komoditas dengan Kenaikan Harga Tertinggi dalam Sebulan Perang)