- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) merilis data PDB Paritas Daya Beli Lesotho tahun 2024 tercatat di angka 6,25 unit. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 1,99 persen dibandingkan tahun 2023, melanjutkan pemulihan perlahan setelah dua kali terjadi kontraksi pada tahun 2020 dan 2022. Kontraksi disini berarti penurunan nilai pertumbuhan ekonomi bernilai negatif, yang masing-masing tercatat minus 2,94 persen dan minus 2,53 persen pada tahun tersebut.
(Baca: Jumlah Penduduk Bekerja di Kota Banjar 111,01 Ribu dan Angka Pengangguran 5,27 Persen)
Selama tiga tahun terakhir 2022 hingga 2024, rata-rata pertumbuhan PDB PPP Lesotho hanya sebesar 0,33 persen. Angka ini jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir 2020 hingga 2024 yang tercatat 0,58 persen, dan juga sangat rendah jika dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir sebesar 2,18 persen. Selama periode 10 tahun terakhir, hanya terjadi dua kali kontraksi yaitu tepat pada tahun pandemi 2020 dan tahun 2022.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Lesotho terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
Kenaikan tertinggi pertumbuhan PDB PPP Lesotho dalam 10 tahun terakhir terjadi pada tahun 2018 dengan pertumbuhan 8,18 persen. Sementara penurunan terendah atau kontraksi terdalam terjadi pada tahun 2020 pada awal pandemi global, dengan penurunan nilai sebesar 2,94 persen. Tidak ditemukan anomali angka diluar rentang fluktuasi normal, dimana pergerakan nilai selalu berada di kisaran 5,3 hingga 6,3 unit sepanjang dekade ini.
Fluktuasi yang terjadi di Lesotho mengikuti pola tetap: pertumbuhan positif selama 2 hingga 3 tahun berturut-turut, kemudian diikuti satu tahun kontraksi. Pola ini terlihat jelas sejak tahun 2017, dimana setelah kenaikan 2 tahun berturut-turut akan selalu terjadi penurunan pada tahun ketiga. Hingga tahun 2024, pola pergerakan ekonomi ini masih bertahan tanpa perubahan yang signifikan.
Berdasarkan ranking regional Afrika, posisi Lesotho terus mengalami penurunan peringkat. Dari posisi 39 pada tahun 2015, peringkat ini turun menjadi 40 mulai tahun 2018, kemudian 41 pada 2023, dan terbaru tahun 2024 turun lagi menjadi peringkat 42 dari total 50 negara yang diukur di wilayah Afrika. Penurunan peringkat ini terjadi terus menerus selama 4 tahun berturut-turut.
Dibandingkan negara lain di wilayah Afrika, pertumbuhan Lesotho tahun 2024 sebesar 1,99 persen berada jauh dibawah negara dengan pertumbuhan terbaik periode 3 tahun terakhir yaitu Sudan yang mencatatkan pertumbuhan rata-rata diatas 170 persen. Bahkan dibandingkan negara sekelas seperti Eswatini yang berada di peringkat 41, Lesotho masih memiliki tingkat pertumbuhan 0,4 persen lebih rendah.
Berdasarkan proyeksi IMF sampai tahun 2030, PDB PPP Lesotho akan terus mengalami perbaikan bertahap dengan pertumbuhan yang terus meningkat mulai dari 1,06 persen tahun 2025 hingga mencapai 3,08 persen pada tahun 2030. Meskipun akan terjadi perbaikan, laju pertumbuhan yang diproyeksikan masih belum akan kembali ke tingkat rata-rata pertumbuhan sebelum tahun 2020.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jul) | 2,88% | -0.46 | |
| Inflasi mom (Jul) | -0,14% | -0.58 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.869 | +0.05 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Jun) | -450,50 | -72.02 | |
| Ekspor Migas (Jun) | 1,07 | +40.52 | |
| Impor Migas (Jun) | 4,56 | +0.96 | |
| Ekspor (Jun) | 25,46 | +9.72 | |
| Impor (Jun) | 25,91 | +4.41 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |