Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk rokok dan tembakau di Kota Banjar pada tahun 2024 mencapai 114.858 rupiah, mengalami penurunan 15,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Informasi ini berasal dari data Susenas yang diolah oleh BPS. Nilai ini menyumbang sekitar 42,5 persen dari rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang jasa di Kota Banjar yang mencapai 270.285 rupiah.
Dari data historis tahun 2018 hingga 2023, pengeluaran rokok dan tembakau di Kota Banjar menunjukkan fluktuasi yang jelas. Tahun 2018, pengeluaran berada di 103.478 rupiah, naik menjadi 117.095 rupiah pada 2019 dengan pertumbuhan 13,2 persen. Tahun 2020, pengeluaran sedikit turun menjadi 111.116 rupiah (-5,1 persen), lalu sedikit turun lagi menjadi 105.433 rupiah pada 2021 (-5,1 persen). Tahun 2022, pengeluaran naik signifikan menjadi 126.483 rupiah (+20 persen), lalu naik lagi menjadi 135.358 rupiah pada 2023 (+7 persen) sebelum turun drastis pada 2024.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kab. Barito Timur | 2024)
Pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau di Kota Banjar terjadi pada tahun 2023, sedangkan pengeluaran terendah terjadi pada tahun 2018. Dibanding rata-rata tiga tahun terakhir (2021-2023) yang mencapai 122.425 rupiah, pengeluaran tahun 2024 lebih rendah sekitar 7.567 rupiah. Dibanding lima tahun terakhir (2019-2023) dengan rata-rata 119.097 rupiah, pengeluaran 2024 juga sedikit lebih rendah.
Pada tahun 2024, Kota Banjar menduduki peringkat ke-26 di antara kabupaten/kota se-Jawa Barat untuk pengeluaran rokok dan tembakau. Peringkat ini sama dengan tahun sebelumnya. Dibandingkan lima kabupaten/kota teratas di provinsi, Kota Bekasi berada di peringkat pertama dengan pengeluaran 196.516 rupiah dan pertumbuhan 22,3 persen, diikuti Kota Bandung (peringkat kedua, 178.884 rupiah, +10,8 persen), Kabupaten Subang (peringkat ketiga, 172.481 rupiah, +11,1 persen), Kabupaten Karawang (peringkat keempat, 167.922 rupiah, +7,3 persen), dan Kabupaten Indramayu (peringkat kelima, 167.146 rupiah, -1,2 persen).
Kota Bekasi
Kota Bekasi menduduki peringkat pertama di Jawa Barat untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan pada tahun 2024, dengan nilai 3.132.705 rupiah yang naik 9,4 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan mencapai 1.908.316 rupiah dengan pertumbuhan 22,4 persen, sedangkan pengeluaran makanan sebesar 1.224.388 rupiah dengan pertumbuhan 21,3 persen. Kedua indikator ini juga menduduki posisi pertama di provinsi, menunjukkan daya beli masyarakat Kota Bekasi yang jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain di Jawa Barat.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Jawa Tengah 2015 - 2024)
Kota Depok
Kota Depok berada di peringkat kedua untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan pada tahun 2024, dengan nilai 2.823.253 rupiah yang naik 3,6 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan sebesar 1.674.594 rupiah dengan pertumbuhan 12,8 persen, dan pengeluaran makanan sebesar 1.148.659 rupiah dengan pertumbuhan 9 persen. Meskipun pertumbuhan pengeluaran total lebih lambat dibanding Kota Bekasi, nilai pengeluaran masih berada di level tinggi, menunjukkan konsumsi masyarakat yang stabil dan berkelanjutan.
Kota Bandung
Kota Bandung menduduki peringkat ketiga untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan pada tahun 2024, dengan nilai 2.378.240 rupiah yang turun 14 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan sebesar 1.382.176 rupiah dengan pertumbuhan 12,2 persen, sedangkan pengeluaran makanan sebesar 996.064 rupiah dengan pertumbuhan 17,7 persen. Penurunan total pengeluaran disebabkan oleh penurunan pengeluaran non makanan tahun sebelumnya yang cukup signifikan, meskipun pada 2024 kedua kategori pengeluaran ini mengalami kenaikan.
Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bekasi berada di peringkat keenam untuk rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan pada tahun 2024, dengan nilai 1.898.978 rupiah yang turun 4,6 persen dari tahun sebelumnya. Pengeluaran bukan makanan sebesar 967.482 rupiah dengan pertumbuhan 3,4 persen, dan pengeluaran makanan sebesar 931.496 rupiah dengan pertumbuhan 13,8 persen. Pertumbuhan pengeluaran makanan yang cukup tinggi tidak mampu menutupi penurunan pengeluaran total tahun sebelumnya, sehingga nilai total masih sedikit turun dibanding tahun lalu.