Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Kota Salatiga pada tahun 2024 mencapai 204.174 jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,13%. Dari total tersebut, jumlah penduduk laki-laki berjumlah 99.973 jiwa (48,96%) dan penduduk perempuan sebesar 104.201 jiwa (51,04%), menunjukkan sedikit dominasi perempuan dalam total penduduk kota.
(Baca: Tingkat Akses Rumah Tangga ke Jaringan Telepon Tetap Periode 2013-2024)
Kelompok umur produktif (15-59 tahun) mendominasi struktur penduduk Kota Salatiga dengan jumlah sebesar 137.262 jiwa, yang menyumbang 67,23% dari total penduduk. Dari jumlah tersebut, 67.647 jiwa adalah penduduk laki-laki (33% dari total penduduk) dan 69.615 jiwa adalah penduduk perempuan (34% dari total penduduk). Kelompok umur non-produktif terdiri dari 39.549 jiwa (0-14 tahun) dan 27.363 jiwa (>60 tahun), masing-masing menyumbang 19,37% dan 13,4% dari total penduduk.
Jika dilihat dari kelompok umur yang lebih rinci, kelompok umur 20-24 tahun menjadi kelompok dengan jumlah penduduk terbanyak sebesar 19.337 jiwa, diikuti oleh kelompok 15-19 tahun dengan 16.926 jiwa. Sebaliknya, kelompok umur dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah 70-74 tahun dengan 5.011 jiwa, diikuti oleh kelompok >75 tahun dengan 7.283 jiwa. Setiap kelompok umur memiliki persentase yang bervariasi, dengan kelompok 20-24 tahun menyumbang sekitar 9,47% dari total penduduk.
(Baca: Keadaan Angkatan Kerja di Kota Langsa pada 2024)
Pada kelompok umur di atas 60 tahun, jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Contohnya, pada kelompok >75 tahun, jumlah penduduk perempuan mencapai 4.349 jiwa sedangkan laki-laki hanya 2.935 jiwa. Hal ini menunjukkan harapan hidup perempuan di Kota Salatiga yang lebih panjang dibandingkan laki-laki. Di kelompok umur anak-anak (0-14 tahun), jumlah laki-laki dan perempuan hampir seimbang, masing-masing 20.069 jiwa dan 19.480 jiwa.
Struktur penduduk Kota Salatiga yang didominasi oleh kelompok umur produktif menjadi potensi besar bagi pembangunan ekonomi kota, karena jumlah tenaga kerja yang cukup. Namun, pemerintah perlu memastikan tersedianya lapangan kerja yang sesuai untuk menyerap tenaga kerja produktif, serta memperkuat layanan kesehatan dan sosial untuk kelompok umur non-produktif, terutama lansia yang jumlahnya terus meningkat.