PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan pendapatan bunga bersih senilai Rp40,33 triliun pada tahun 2025.
Pendapatannya turun 0,36% dibanding tahun 2024 (year-on-year/yoy).
Hal ini diiringi dengan berkurangnya keuntungan. Pada tahun 2025, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke entitas induk BNI turun 6,6% menjadi Rp20,04 triliun.
(Baca: 10 Emiten Sektor Keuangan dengan Aset Terbesar di BEI Kuartal III 2025)
Meski pendapatan dan labanya turun, penyaluran kredit BNI pada 2025 tumbuh 15,9% (yoy).
"Sepanjang 2025, kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga," kata Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan dalam siaran pers (3/2/2026).
"Namun, BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujarnya.
Pada 2025, BNI juga mencetak perbaikan kualitas aset, yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan loan at risk (LAR).
"NPL bruto tercatat sebesar 1,9% atau membaik 10 bps, sementara LAR 8,5% atau membaik 1,8%, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi," kata Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena.
"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," ujar Paolo.
Sampai akhir Desember 2025, emiten berkode BBNI ini memiliki aset senilai Rp1.362 triliun, tumbuh 20,5% dibanding akhir Desember 2024.
Asetnya terdiri atas liabilitas sebesar Rp1.185 triliun dan ekuitas Rp176,34 triliun.
(Baca: Bank Mandiri Kantongi Aset Terbesar di Indonesia September 2025)