Menurut tim riset Emmett Institute dari University of California Los Angeles (UCLA), Bantargebang menjadi tempat pembuangan sampah dengan emisi metana terbesar kedua di dunia pada 2025.
Gas metana ini berasal dari pembusukan sampah organik, dan besarnya emisi mengindikasikan ada banyak sampah yang tidak dikelola secara optimal.
Adapun metana tergolong sebagai gas rumah kaca yang bisa terakumulasi di atmosfer dan memicu pemanasan global.
(Baca: Sampah Jadi Sumber Emisi Metana Terbesar Indonesia)
Merujuk data UCLA, Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang terletak di Bekasi, Jawa Barat, terdeteksi melepaskan sekitar 6,3 metrik ton metana per jam pada 2025.
Bantargebang hanya kalah dari tempat pembuangan sampah di Campo de Mayo, Buenos Aires, Argentina, yang menghasilkan sekitar 7,6 metrik ton metana per jam.
Berikut daftar lokasi 25 tempat pembuangan sampah yang melepaskan emisi metana terbesar di dunia pada 2025:
- Campo de Mayo, Buenos Aires Province, Argentina: 7,6 metrik ton per jam
- Bekasi, Jawa Barat, Indonesia: 6,3
- Jeram, Selangor, Malaysia: 6
- Secunderabad, Telangana, India: 5,9
- Tiltil, Chili: 5,5
- Talagante, Chili: 5,2
- Riyadh, Arab Saudi: 5,1
- Kamphaeng Saen, Nakhon Pathom, Thailand: 5
- Penco, Biobío, Chili: 5
- Fazenda Rio Grande, Paraná, Brasil: 4,9
- Al Jumum, Arab Saudi: 4,9
- Maharashtra, India: 4,9
- Caieiras, Brasil: 4,8
- Rodriguez, Rizal, Filipina: 4,6
- Algiers, Algeria: 4,3
- Hong Kong North District, S.A.R.: 4,2
- Simeprodeso, Nuevo León, Meksiko: 4,1
- Southern District, Israel: 4,1
- Fyli, Attica, Yunani: 4
- Mauá, Brasil: 4
- Needville, Texas, Amerika Serikat: 3,8
- Ray County, Iran: 3,8
- Rajm Khashman-Muslan, Al Ahmadi, Kuwait: 3,8
- Sile, Turki: 3,8
- Menemen, Turki: 3,6
Jika dihitung secara rata-rata, setiap tempat pembuangan sampah yang tercatat di sini menghasilkan 5 metrik ton metana per jam.
Angka itu setara dengan emisi dari satu juta unit kendaraan sport utility vehicle (SUV), atau satu unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara skala besar berkapasitas 500 megawatt.
Tim riset UCLA menghimpun data ini dari emisi yang dipantau Carbon Mapper melalui satelit milik Planet Labs dan stasiun ruang angkasa NASA selama periode 1 Januari-31 Desember 2025.
(Baca: Sampah Indonesia Didominasi Sisa Makanan dan Plastik pada 2019-2025)