Menurut laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ada 45 kasus kejadian luar biasa (KLB) campak sejak awal tahun hingga 2 Maret 2026. Kasus ini tersebar di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi Indonesia.
Merespons kondisi ini, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap penularan campak selama periode mudik dan libur Lebaran.
Meningkatnya mobilitas masyarakat dan potensi kerumunan dinilai dapat memperbesar risiko penularan penyakit, terutama pada anak-anak yang belum mendapat imunisasi lengkap.
"Kemenkes dan pihak-pihak lainnya telah memberikan respons segera pada daerah terdampak KLB campak melalui outbreak response immunization dan catch up campaign atau imunisasi kejar," kata Andi dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026).
Sampai 2 Maret 2026, Kemenkes sudah menemukan 10.453 suspek campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.272 kasus sudah terverifikasi dan menimbulkan 6 kematian.
Adapun KLB campak paling banyak tercatat di Sumatera Barat, yang memiliki 14 daerah dengan kasus tersebut.
Lengkapnya, berikut sebaran daerah KLB campak di Indonesia sampai tanggal 2 Maret 2026:
Sumatera Barat: 14 daerah
- Solok
- Solok
- Solok
- Solok
- Solok
- Solok
- Solok
- Solok
- Kota Pariaman
- Kota Pariaman
- Kota Pariaman
- Kota Padang
- Sijunjung
- Padang Pariaman
Sumatera Selatan: 6 daerah
- Kota Prabumulih
- Kota Palembang
- Kota Palembang
- Banyuasin
- Musi Rawas Utara
- Musi Rawas Utara
Jawa Barat: 5 daerah
- Garut
- Garut
- Garut
- Tasikmalaya
- Tasikmalaya
D.I Yogyakarta: 3 daerah
- Sleman
- Sleman
- Gunung Kidul
Jawa Timur: 3 daerah
- Jember
- Pamekasan
- Tulungagung
NTB: 3 daerah
- Bima
- Kota Bima
- Dompu
Sulawesi Tengah: 3 daerah
- Tojo Una-Una
- Tojo Una-Una
- Donggala
Sumatera Utara: 2 daerah
- Deli Serdang
- Kota Medan
Banten: 2 daerah
- Tangerang
- Pandeglang
Jawa Tengah: 2 daerah
- Cilacap
- Klaten
Sulawesi Selatan: 2 daerah
- Sinjai
- Kota Makassar
(Baca: Persentase Balita yang Mendapat Imunisasi Campak di 38 Provinsi RI pada 2025)