Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Jasa Penunjang Keuangan Provinsi Banten tahun 2025 tercapai sebesar 1,31 Rp miliar. Sepanjang periode pengamatan 2012 hingga 2025, nilai sektor ini stagnan pada angka 1 Rp miliar selama 9 tahun berturut-turut sampai tahun 2021, sebelum menunjukkan kenaikan konsisten hingga tahun terakhir. Pada 2025, sektor ini tumbuh sebesar 5,65 persen dengan penambahan nilai sebesar 0,07 Rp miliar dibandingkan tahun 2024.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Samosir | 2005 - 2025)
Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir sektor ini di Banten tercatat 5,68 persen, angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang berada pada 5,61 persen. Kenaikan tertinggi sepanjang periode terjadi pada tahun 2022 dengan laju pertumbuhan 11 persen, sementara tidak ditemukan satupun periode penurunan nilai selama 14 tahun data. Nilai tahun 2025 juga tercatat berada di atas rata-rata nilai seluruh periode pengamatan.
Dalam lingkup Pulau Jawa, peringkat Banten untuk sektor ini bertahan di posisi 6 secara berturut-turut sejak tahun 2016 sampai 2025. Secara nasional, Banten menempati urutan 30 di tahun 2025. Dibandingkan wilayah lain dengan nilai serupa, Banten berada satu peringkat di bawah Aceh, dan satu peringkat di atas Provinsi Papua pada daftar peringkat nasional.
Total peningkatan nilai sektor Jasa Penunjang Keuangan Banten sepanjang 2012 hingga 2025 mencapai 31 persen, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 2,1 persen per tahun. Seluruh periode kenaikan hanya tercatat terjadi dalam 4 tahun terakhir, sementara 9 tahun awal data menunjukkan nilai yang tidak berubah sama sekali. Tidak ada anomali penurunan nilai pada seluruh rentang pengamatan.
Bengkulu
Provinsi Bengkulu menempati urutan 27 secara nasional untuk sektor yang sama, dengan nilai akhir tahun 2025 sebesar 1,89 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 7,39 persen, dengan penambahan nilai sebesar 0,13 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan capaian Banten, dan menempatkan Bengkulu sebagai wilayah dengan nilai tertinggi pada kelompok provinsi perbandingan ini. Dalam lingkup Pulau Sumatera, Bengkulu berada di urutan 9.
Papua Barat Daya
Papua Barat Daya menempati peringkat 1 di wilayah Pulau Papua untuk sektor Jasa Penunjang Keuangan, dengan peringkat nasional 28. Nilai akhir sektor ini di wilayah tersebut tercatat 1,71 Rp miliar, dengan laju pertumbuhan tahunan 5,56 persen. Angka pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir Banten, namun besaran nilai absolut masih berada 30 persen lebih tinggi dibandingkan capaian Banten pada tahun yang sama.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Kalimantan Selatan 2025)
Aceh
Aceh berada di urutan 29 secara nasional, dengan nilai akhir sektor Jasa Penunjang Keuangan sebesar 1,33 Rp miliar atau hanya sedikit di atas nilai Banten. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 7,26 persen, angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Banten tahun 2025. Dalam lingkup Pulau Sumatera, Aceh menempati urutan 10, dengan penambahan nilai tahunan sebesar 0,09 Rp miliar pada tahun terakhir pengamatan.
Papua
Provinsi Papua menempati urutan 31 secara nasional, satu peringkat di bawah Banten. Nilai sektor Jasa Penunjang Keuangan di wilayah ini tercatat sebesar 1,22 Rp miliar, dengan laju pertumbuhan tahunan 6,09 persen. Angka pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian Banten tahun 2025, namun nilai absolutnya masih berada di bawah pencatatan Banten. Dalam lingkup Pulau Papua, wilayah ini berada di urutan kedua setelah Papua Barat Daya.
Papua Barat
Papua Barat mencatatkan pertumbuhan negatif turun 1,45 persen pada tahun terakhir, menjadi satu-satunya wilayah pada kelompok perbandingan yang mengalami penurunan nilai. Nilai akhir sektor ini tercatat sebesar 0,68 Rp miliar, dengan penurunan nilai sebesar 0,01 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini berada di urutan 3 secara regional Pulau Papua dan urutan 32 secara nasional, jauh di bawah peringkat Banten.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat mencatatkan pertumbuhan tertinggi pada kelompok perbandingan yaitu sebesar 13,51 persen pada tahun terakhir. Nilai akhir sektor Jasa Penunjang Keuangan di wilayah ini tercatat 0,42 Rp miliar, dengan penambahan nilai sebesar 0,05 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati urutan 6 di lingkup Pulau Sulawesi dan urutan 33 secara nasional, merupakan peringkat terendah pada kelompok provinsi yang diperbandingkan.