Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan tahun 2024 untuk Kabupaten Bandung Barat, di mana persentase penduduk miskinan sedikit turun dari 10,52 persen (2023) menjadi 10,49 persen. Jumlah penduduk miskin sedikit naik menjadi 179.700 orang, sementara jumlah penduduk keseluruhan naik sebesar 44.251 jiwa menjadi 1.878.507 jiwa dengan pertumbuhan 2,41 persen. Rank seindonesia untuk persentase kemiskinan adalah 225, sedangkan rank di pulau Jawa adalah 41.
(Baca: PDRB Konsumsi Rumah Tangga Periode 2013-2024)
Dari data historis kemiskinan periode 2007-2024, persentase kemiskinan tertinggi terjadi di tahun 2007 sebesar 18,7 persen, dan terendah di tahun 2019 sebesar 9,38 persen. Pertumbuhan angka kemiskinan terendah terjadi di 2018 dengan nilai -12,45 persen, dan tertinggi di 2020 dengan nilai 11,83 persen. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 10,61 persen, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) adalah 10,68 persen, sehingga nilai tahun 2024 sedikit lebih rendah dari kedua rata-rata tersebut. Rank seindonesia mengalami pergeseran dari urutan ke-196 di 2007 ke urutan ke-225 di 2024, dengan peningkatan rank (menjadi lebih baik) pada tahun-tahun penurunan kemiskinan dan penurunan rank pada tahun peningkatan kemiskinan.
Dibandingkan dengan kabupaten dan kota sekitar di Jawa Barat, persentase kemiskinan Kabupaten Bandung Barat (10,49 persen) lebih tinggi dari Kabupaten Garut (9,68 persen) dan Kabupaten Cianjur (10,14 persen), tapi lebih rendah dari Kabupaten Cirebon (11 persen), Kabupaten Majalengka (10,82 persen), Kabupaten Tasikmalaya (10,23 persen) dan Kota Tasikmalaya (11,1 persen). Jumlah penduduk miskinnya 179.700 orang lebih banyak dari Kabupaten Majalengka (134.580 orang) dan Kota Tasikmalaya (76.710 orang), tapi lebih sedikit dari empat kabupaten lainnya di sekitarnya.
Kabupaten Cianjur
Rank seindonesia persentase kemiskinan adalah 237, dengan nilai 10,14 persen dan pertumbuhan -0,78 persen. Jumlah penduduk miskinnya 239.300 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 2.584.735 jiwa yang tumbuh sebesar 2,71 persen. Pendapatan per kapita masyarakat adalah 24,91 juta rupiah per tahun, sedangkan garis kemiskinan di wilayah ini adalah 466,51 ribu rupiah per kapita per bulan. Persentase kemiskinan di sini sedikit lebih rendah dari Kabupaten Bandung Barat, dengan jumlah penduduk miskin yang lebih akibat jumlah penduduk keseluruhan yang lebih besar.
Kabupaten Cirebon
Rank seindonesia persentase kemiskinan adalah 202, dengan nilai 11 persen dan pertumbuhan -1,31 persen. Jumlah penduduk miskinnya 245.920 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 2.452.563 jiwa yang tumbuh sebesar 1,31 persen. Pendapatan per kapita masyarakat adalah 28,14 juta rupiah per tahun, sedangkan garis kemiskinan adalah 475,05 ribu rupiah per kapita per bulan. Persentase kemiskinan di sini lebih tinggi dari Kabupaten Bandung Barat, meskipun pertumbuhan penurunan kemiskinan lebih besar dibandingkan wilayah tetangga tersebut.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Pasaman Periode 2004 - 2024)
Kabupaten Garut
Rank seindonesia persentase kemiskinan adalah 247, dengan nilai 9,68 persen dan pertumbuhan -0,92 persen. Jumlah penduduk miskinnya 259.320 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 2.790.435 jiwa yang tumbuh sebesar 0,72 persen. Pendapatan per kapita masyarakat adalah 29,01 juta rupiah per tahun, sedangkan garis kemiskinan adalah 393,46 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan terendah di antara wilayah perbandingan, dengan jumlah penduduk miskin yang lebih besar akibat jumlah penduduk yang paling banyak di daftar.
Kabupaten Majalengka
Rank seindonesia persentase kemiskinan adalah 208, dengan nilai 10,82 persen dan pertumbuhan -3 persen. Jumlah penduduk miskinnya 134.580 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 1.364.891 jiwa yang tumbuh sebesar 1,45 persen. Pendapatan per kapita masyarakat adalah 34,23 juta rupiah per tahun, sedangkan garis kemiskinan adalah 547,91 ribu rupiah per kapita per bulan. Persentase kemiskinan di sini lebih tinggi dari Kabupaten Bandung Barat, dengan jumlah penduduk miskin yang lebih sedikit akibat jumlah penduduk yang lebih kecil.
Kabupaten Tasikmalaya
Rank seindonesia persentase kemiskinan adalah 233, dengan nilai 10,23 persen dan pertumbuhan -0,06 persen. Jumlah penduduk miskinnya 186.750 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 1.973.411 jiwa yang tumbuh sebesar 1,33 persen. Pendapatan per kapita masyarakat adalah 25,92 juta rupiah per tahun, sedangkan garis kemiskinan adalah 400,15 ribu rupiah per kapita per bulan. Persentase kemiskinan di sini sedikit lebih rendah dari Kabupaten Bandung Barat, dengan jumlah penduduk miskin yang sedikit lebih banyak akibat jumlah penduduk yang hampir sama.
Kota Tasikmalaya
Rank seindonesia persentase kemiskinan adalah 201, dengan nilai 11,1 persen dan pertumbuhan -3,35 persen. Jumlah penduduk miskinnya 76.710 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 761.080 jiwa yang tumbuh sebesar 1,13 persen. Pendapatan per kapita masyarakat adalah 39,45 juta rupiah per tahun, sedangkan garis kemiskinan adalah 565,38 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan tertinggi di antara wilayah perbandingan, dengan jumlah penduduk miskin yang paling sedikit akibat jumlah penduduk yang paling kecil.