Kementerian LHK Temukan 470 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Riau (Sabtu, 21 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 470 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 104 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (21/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 470 titik panas terdeteksi, 36 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 402 titik skala sedang, dan 32 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Penyakit yang Dialami Korban Banjir Sumatra per 5 Desember 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 175 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 92 titik. Kepulauan Riau berada di posisi ketiga sebanyak 51 titik panas.
Sebanyak 27 titik panas terdeteksi di Sumatera Utara, Maluku Utara menyusul dengan 21 titik panas, serta Aceh dan Jambi masing-masing memiliki 15 dan 15 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Sebaran Titik Banjir Jakarta (23 Januari 2026 Pukul 07.00 WIB))