Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan tahun 2024 untuk Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, yang menunjukkan persentase penduduk miskin sedikit turun dari 29,79 persen (2023) menjadi 28,95 persen. Selisih nilai ini turun 0,84 persen dengan pertumbuhan turun 2,82 persen. Jumlah penduduk miskin sedikit turun 450 orang menjadi 22.870 orang, sedangkan total penduduk sedikit naik 804 orang menjadi 114.151 jiwa. Peringkat se-Indonesia ke-21, dan di Papua ke-20.
(Baca: Lima Gempa Bumi Terakhir yang Tercatat di BMKG (Jumat, 10 April 2026 12:39:16 WIB))
Data historis 2004-2024 menunjukkan persentase kemiskinan tertinggi di 2006 (51,26 persen), terendah di 2024 (28,95 persen). Pertumbuhan tertinggi di 2005 (5,18 persen), terendah di 2014 (-11,95 persen). Rata-rata 3 tahun terakhir 29,69 persen, 5 tahun terakhir 29,93 persen, sehingga 2024 lebih rendah dari kedua rata-rata. Peringkat se-Indonesia fluktuatif: dari ke-6 (2004) ke ke-3 (2005), hingga ke-21 (2024).
Dibandingkan kabupaten tetangga di Papua Pegunungan, persentase kemiskinan wilayah ini lebih rendah ketiga. Jumlah penduduk miskin 22.870 orang, lebih sedikit dari dua kabupaten lain tapi lebih banyak dari satu. Garis kemiskinan tetangga Rp600,54-Rp722,26 ribu per kapita/bulan, pendapatan per kapita Rp8,83-Rp40,73 juta per tahun. Semua tetangga juga mengalami penurunan kemiskinan di 2024.
Kabupaten Jayawijaya
(Baca: Prakiraan Cuaca di Raja Ampat 07-18 Apr/26)
Persentase penduduk miskin sebesar 32,28 persen dengan pertumbuhan -7 persen, berada di peringkat ke-11 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 68.360 orang, dengan jumlah total penduduk 275.772 jiwa yang mengalami pertumbuhan 0,71 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar Rp722,26 ribu per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita mencapai Rp40,73 juta per tahun dengan pertumbuhan 11,57 persen. Peringkat jumlah penduduk se-Indonesia berada di urutan ke-272, sedangkan peringkat jumlah penduduk miskin di urutan ke-123, menunjukkan bahwa proporsi penduduk miskin cukup tinggi dibandingkan jumlah total penduduk yang ada.
Kabupaten Tolikara
Persentase penduduk miskin sebesar 31,22 persen dengan pertumbuhan -1,11 persen, berada di peringkat ke-13 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 48.730 orang, dengan jumlah total penduduk 251.661 jiwa yang mengalami pertumbuhan 0,1 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar Rp675,91 ribu per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita mencapai Rp8,83 juta per tahun dengan pertumbuhan 7,38 persen. Peringkat jumlah penduduk se-Indonesia berada di urutan ke-296, sedangkan peringkat jumlah penduduk miskin di urutan ke-160, menunjukkan bahwa proporsi penduduk miskin cukup tinggi meskipun jumlah total penduduk tidak terlalu besar dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Kabupaten Yalimo
Persentase penduduk miskin sebesar 30,02 persen dengan pertumbuhan -3,07 persen, berada di peringkat ke-17 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 21.440 orang, dengan jumlah total penduduk 104.913 jiwa yang mengalami pertumbuhan 0,48 persen. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar Rp600,54 ribu per kapita per bulan, dan pendapatan per kapita mencapai Rp15,77 juta per tahun dengan pertumbuhan 7,99 persen. Peringkat jumlah penduduk se-Indonesia berada di urutan ke-454, sedangkan peringkat jumlah penduduk miskin di urutan ke-316, menunjukkan bahwa proporsi penduduk miskin cukup tinggi dibandingkan jumlah total penduduk yang relatif kecil dibandingkan kebanyakan kabupaten di Indonesia.