Defisit Transaksi Berjalan Triwulan II 2018 Mencapai 3% Terhadap PDB

14 September 2018

Terjadinya defisit transaksi berjalan membuat pasokan dolar Amerika Serikat di pasar domestik berkurang karena lebih banyak untuk pembayaran ke luar negeri dibandingkan dengan penerimaan.

Nilai transaksi berjalan Indonesia yang mengalami defisit menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah. Terjadinya defisit transaksi berjalan membuat pasokan dolar Amerika Serikat di pasar domestik terbatas karena lebih banyak untuk pembayaran ke luar negeri dibandingkan dengan penerimaan. Adapun transaksi pendapatan primer dan transaksi jasa-jasa menjadi penyumbang tingginya defisit transaksi berjalan selama ini.

Baca selengkapnya

Neraca Pembayaran Indonesia mencatat, defisit transaksi berjalan terjadi sejak triwulan IV 2011 sampai saat ini. Pada triwulan II 2018, defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar US$ 8,03 miliar atau sekitar 3,04% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Secara akumulasi, sepanjang semester pertama tahun ini mencapai US$ 13,75 miliar atau setara Rp 204 triliun, melonjak hampir dua kali lipat dibanding semester pertama tahun sebelumnya. Ini salah satu yang harus diperhatikan oleh pemerintah untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Berdasarkan nilainya, defisit transaksi berjalan terbesar terjadi pada triwulan II 2013 sebesar US$ 10,13 miliar atau sekitar 4,24% terhadap PDB. Sementara berdasarkan persentase terhadap PDB, defisit terbesar tercatat pada triwulan II 2014 yang mencapai 4,26% terhadap PDB atau senilai US$ 9,58 miliar.

Tampilkan minimal

Nilai Transaksi Berjalan dan Persentase Transaksi Berjalan Terhadap PDB (2010-Jun 2018)

 
  • Sumber

    Bank Indonesia

  • Rilis

    Bank Indonesia Agt 2018

  • Informasi lain

    Bank Indonesia

  • Embed Chart

Baca Juga

Statistik Lainnya