Penggunaan alat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bisa memicu "brain fry", kondisi di mana otak terasa "panas" atau "seperti tergoreng" karena kelelahan mental.
Hal ini terlihat dari studi Boston Consulting Group (BCG) yang dipublikasikan di situs web Harvard Business Review pada Maret 2026.
(Baca: Pengalaman Negatif Terkait AI yang Dialami Warga Indonesia)
BCG mendefinisikan AI "brain fry" sebagai kelelahan mental akibat terlalu banyak menggunakan AI yang melampaui kapasitas kognitif seseorang.
BCG lantas menyurvei 1.488 karyawan di Amerika Serikat pada Januari 2026, dan hasilnya, ada sebagian responden yang merasa pernah mengalami kondisi tersebut.
"Responden menggambarkan perasaan 'berdengung' atau 'kabut mental' yang disertai kesulitan untuk fokus, pengambilan keputusan yang lebih lambat, dan sakit kepala," kata BCG dalam laporannya.
"Ketegangan mental yang terkait dengan AI ini menimbulkan dampak signifikan berupa peningkatan kesalahan karyawan, kelelahan dalam pengambilan keputusan, dan munculnya niat untuk berhenti bekerja," lanjutnya.
Jika dilihat berdasarkan bidang pekerjaannya, kondisi AI "brain fry" paling banyak dialami karyawan di bidang pemasaran, dengan proporsi mencapai 25,9%.
Berikut proporsi karyawan di AS yang pernah mengalami AI "brain fry" berdasarkan bidang kerja, menurut survei BCG:
- Pemasaran: 25,9%
- Sumber daya manusia (SDM): 19,3%
- Operasional: 17,9%
- Teknik/pengembangan perangkat lunak: 17,8%
- Keuangan/akuntansi: 16,7%
- Teknologi informasi: 16,0%
- Penjualan/pengembangan bisnis: 12,5%
- Layanan pelanggan: 10,6%
- Penyedia jasa/konsultan: 10,3%
- Manajemen produk: 8,6%
- Manajemen: 8,6%
- Hukum: 5,6%
"Dalam banyak kasus, karyawan yang menggunakan AI secara intensif merupakan talenta unggulan yang harus dipertahankan perusahaan," kata BCG dalam laporannya.
"Namun, kondisi AI 'brain fry' terkait secara positif dengan meningkatnya niat karyawan untuk keluar dari pekerjaan," lanjutnya.
Di antara pekerja yang tidak mengalami AI "brain fry", sekitar 25% menunjukkan niat untuk resign.
Sedangkan di kelompok pekerja yang mengalami AI "brain fry", yang berniat mengundurkan diri mencapai 34%.
(Baca: Total Download Aplikasi AI di Indonesia Melonjak 88% pada 2025)