Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang di Provinsi Gorontalo pada tahun 2025 mencapai 1126 pekerja. Sepanjang 11 tahun periode pencatatan sejak 2015, sektor ini menunjukkan tren naik secara keseluruhan dengan pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 14,37 persen. Pada tahun 2025, terjadi penurunan sedikit sebesar 0,18 persen dibandingkan tahun 2024, atau berkurang sebanyak 2 pekerja dari total tahun sebelumnya.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Ponorogo | 2004 - 2025)
Sepanjang riwayat data, kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2016 dengan lonjakan 201,7 persen, sedangkan penurunan terdalam tercatat pada tahun 2020 sebesar 62,3 persen. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir mencapai 28,72 persen, angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang berada di angka 30,02 persen. Nilai pekerja tahun 2025 tercatat berada di atas rata-rata keseluruhan periode yang sebesar 735 pekerja.
Pada tahun 2025, Gorontalo menempati peringkat ke 4 dari seluruh provinsi di kawasan Pulau Sulawesi, naik satu peringkat dari posisi ke 5 pada tahun sebelumnya. Secara nasional, Gorontalo tetap bertahan di peringkat 29 dari seluruh provinsi di Indonesia. Nilai total pekerja sektor lingkungan ini masih berada di bawah Sulawesi Utara yang mencatat 1452 pekerja, namun lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Barat yang hanya memiliki 835 pekerja pada tahun yang sama.
Sulawesi Utara
Sulawesi Utara menempati peringkat ke 3 se-Pulau Sulawesi dan peringkat 26 secara nasional untuk jumlah pekerja sektor lingkungan pada tahun 2025 dengan total 1452 pekerja. Wilayah ini mencatat penurunan sebesar 8,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya, atau berkurang sebanyak 134 pekerja. Meskipun mengalami penurunan, nilai total pekerja di Sulawesi Utara masih menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh provinsi lain di Pulau Sulawesi yang tercatat pada data perbandingan.
Papua
Provinsi Papua mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 205,31 persen pada tahun terakhir, menjadi satu-satunya wilayah dengan pertumbuhan di atas 100 persen dari seluruh daftar perbandingan. Dengan total pekerja mencapai 1322 pekerja, Papua menempati peringkat pertama pada daftar perbandingan dan peringkat 27 secara nasional. Pertumbuhan ini terjadi dengan penambahan sebanyak 889 pekerja dibandingkan periode tahun sebelumnya.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Makanan dan Minuman Jadi di Kab. Buton Utara 2018 - 2024)
Bengkulu
Bengkulu tercatat memiliki 1161 pekerja sektor lingkungan pada tahun 2025, menempati peringkat ke 9 se-Pulau Sumatera dan peringkat 28 secara nasional. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 11,71 persen atau berkurang 154 pekerja dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai pekerja di Bengkulu hanya terpaut sedikit dibawah catatan Gorontalo pada tahun yang sama, dengan selisih kurang dari 40 pekerja.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat mencatat total 835 pekerja sektor lingkungan pada tahun 2025, dengan pertumbuhan positif sebesar 18,78 persen dibandingkan periode sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat ke 5 se-Pulau Sulawesi dan peringkat 30 secara nasional. Pertumbuhan ini terjadi dengan penambahan sebanyak 132 pekerja, menjadikan Sulawesi Barat sebagai salah satu wilayah di Pulau Sulawesi yang masih mencatat pertumbuhan positif pada tahun 2025.
Kepulauan Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung memiliki total 679 pekerja sektor lingkungan pada tahun 2025, mencatat pertumbuhan sebesar 62,44 persen atau penambahan 261 pekerja dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah ini menempati peringkat ke 10 se-Pulau Sumatera dan peringkat 31 secara nasional. Pertumbuhan di wilayah ini menjadi yang tertinggi kedua setelah Papua dari seluruh daftar provinsi yang tercatat pada data perbandingan.
Maluku
Maluku mencatat penurunan terdalam sebesar 66,51 persen pada tahun 2025, dengan total pekerja sektor lingkungan hanya tersisa 513 pekerja. Wilayah ini menempati peringkat ke 2 se-Pulau Maluku dan peringkat terbawah yaitu 32 secara nasional. Penurunan ini terjadi dengan pengurangan sebanyak 1019 pekerja, menjadi penurunan terbesar dibandingkan seluruh provinsi lain pada data perbandingan.