Pengeluaran untuk kecantikan di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, mencapai Rp51.363 per kapita per bulan pada 2024.
Angka ini mengalami sedikit penurunan turun 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas. Kendati terjadi penurunan, pengeluaran ini tetap menjadi bagian penting dari alokasi dana masyarakat untuk memenuhi kebutuhan non-primer.
(Baca: Produksi Jeruk Besar Periode 2013-2023)
Jika dibandingkan dengan total rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp295.098, pengeluaran untuk kecantikan hanya menyumbang sekitar 17,4%. Sementara itu, jika dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan jadi sebesar Rp302.599, proporsi pengeluaran kecantikan lebih kecil lagi. Namun, angka ini lebih besar jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk perawatan yang tercatat sebesar Rp62.449 atau rokok dan tembakau yang mencapai Rp160.867.
Secara historis, pengeluaran untuk kecantikan di Kabupaten Tanah Bumbu cenderung fluktuatif. Pada 2018, pengeluaran tercatat sebesar Rp39.280, kemudian naik signifikan pada 2019 menjadi Rp54.879 atau tumbuh 39,7%. Namun, pada 2020, terjadi penurunan tajam turun 21% menjadi Rp43.354. Selanjutnya, pengeluaran kembali naik tipis pada 2021 menjadi Rp44.598 dan melonjak pada 2022 menjadi Rp52.404 atau tumbuh 17,5%. Pada 2023, pengeluaran kembali naik menjadi Rp55.026 sebelum akhirnya sedikit turun pada 2024.
Dari sisi peringkat, pengeluaran untuk kecantikan di Kabupaten Tanah Bumbu menduduki peringkat 3 di antara kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan pada 2024. Peringkat ini berada di bawah Kabupaten Tabalong (Rp66.969) dan Kota Banjarmasin (Rp53.752). Secara nasional, Kabupaten Tanah Bumbu berada di peringkat 90.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Sulawesi Tenggara 2015 - 2024)
Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan, pertumbuhan pengeluaran untuk kecantikan di Kabupaten Tanah Bumbu menunjukkan kinerja yang relatif baik. Kabupaten Tabalong mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 105,6%, diikuti Kota Banjarmasin sebesar 17,2%. Sementara itu, beberapa kabupaten/kota lain justru mengalami penurunan, seperti Kota Banjar Baru (-14,5%) dan Kabupaten Kota Baru (-22%).
Kota Banjar Baru
Kota Banjar Baru menunjukkan pertumbuhan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan yang negatif, yaitu -3.1%, dari Rp1.030.796,26 pada tahun sebelumnya menjadi Rp999.000 pada 2024. Meskipun demikian, Kota Banjar Baru tetap memimpin dengan menduduki peringkat pertama se-Kalimantan Selatan dalam hal pengeluaran bukan makanan. Di sisi lain, pengeluaran untuk makanan menunjukkan peningkatan yang stabil, menunjukkan pola konsumsi yang berbeda dibandingkan dengan sektor non-makanan.
Kabupaten Tanah Bumbu
Kabupaten Tanah Bumbu mencatat pertumbuhan positif pada rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan, yakni sebesar 10.2%, meningkat dari Rp853.312,5 pada tahun sebelumnya menjadi Rp940.270 pada 2024. Dengan pertumbuhan ini, Tanah Bumbu menduduki peringkat ketiga di Kalimantan Selatan. Peningkatan pengeluaran ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan dan kemampuan konsumsi masyarakat di sektor non-makanan.
Kota Banjarmasin
Kota Banjarmasin mengalami peningkatan signifikan dalam rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan, mencapai 12.3%, dari Rp846.415,81 pada tahun sebelumnya menjadi Rp950.619 pada 2024. Pertumbuhan ini menempatkan Banjarmasin pada peringkat kedua di antara kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Kenaikan ini mencerminkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi di sektor non-makanan di ibu kota provinsi ini.
Kabupaten Tabalong
Kabupaten Tabalong mencatat pertumbuhan yang solid dalam rata-rata pengeluaran per kapita sebulan bukan makanan, yakni sebesar 8.4%, dari Rp739.133,78 pada tahun sebelumnya menjadi Rp801.281 pada 2024. Dengan pertumbuhan ini, Tabalong menempati posisi keempat dalam peringkat di Kalimantan Selatan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa Tabalong berhasil meningkatkan daya beli masyarakatnya, terutama dalam sektor non-makanan.