Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita bulanan masyarakat Kabupaten Sintang untuk kebutuhan kecantikan pada tahun 2024 mencapai 58189 Rupiah per kapita per bulan. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 42,1 persen dibandingkan tahun 2023, menjadi pertumbuhan tertinggi kedua sepanjang catatan data sejak tahun 2018. Sepanjang tujuh tahun terakhir, hanya terjadi satu kali penurunan yaitu pada tahun 2021 sebesar 3,7 persen, sebelum kembali naik secara bertahap hingga tahun 2024.
(Baca: Harga Perak Turun Menuju Level US$87,548 /Troy Ons (Rabu, 13 Mei 2026))
Nilai pengeluaran kecantikan masyarakat Kabupaten Sintang menyumbang 3,4 persen dari total rata-rata pengeluaran per kapita sebulan masyarakat. Jika dibandingkan pos pengeluaran lain, nilai ini sebesar 31,8 persen dari pengeluaran sabun mandi, 90 persen dari pengeluaran perawatan umum, serta 38,2 persen dari pengeluaran bulanan untuk rokok dan tembakau. Proporsi ini menunjukkan alokasi anggaran rumah tangga untuk kebutuhan kecantikan terus memiliki porsi yang tetap setiap tahun.
Sepanjang periode 2018 hingga 2024, pengeluaran kecantikan di Kabupaten Sintang tercatat mengalami kenaikan sebesar 155 persen dari nilai awal 22803 Rupiah pada tahun 2018. Setelah mengalami sedikit penurunan pada tahun 2021, angka pengeluaran kembali naik pada tahun 2022, kemudian melonjak signifikan pada tahun 2023 sebesar 48,4 persen, dan tetap tumbuh tinggi pada tahun berikutnya. Rata-rata pertumbuhan tahunan dalam lima tahun terakhir mencapai 19,1 persen per tahun.
Berdasarkan perbandingan antar wilayah di Kalimantan Barat, Kabupaten Sintang menempati urutan kedua tertinggi untuk pengeluaran kecantikan tahun 2024. Hanya Kota Pontianak yang mencatat angka lebih tinggi yaitu 74286 Rupiah per kapita per bulan, disusul kemudian Kota Singkawang di urutan ketiga dengan 44175 Rupiah. Sementara itu hampir seluruh kabupaten lain di provinsi ini justru mencatat penurunan pengeluaran kecantikan pada tahun 2024, berbeda dengan pertumbuhan tinggi yang terjadi di Kabupaten Sintang.
Kondisi Pengeluaran Umum Masyarakat Kabupaten Sintang
Badan Pusat Statistik juga mencatat total pengeluaran bukan makanan per kapita bulanan Kabupaten Sintang pada tahun 2024 mencapai 685825 Rupiah, dengan pertumbuhan 16,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menempatkan Kabupaten Sintang di urutan ketiga tertinggi se Kalimantan Barat untuk kategori pengeluaran bukan makanan, hanya berada di bawah Kota Pontianak dan Kota Singkawang. Pertumbuhan pengeluaran bukan makanan ini berjalan sejalan dengan kenaikan alokasi anggaran untuk kebutuhan kecantikan masyarakat.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Makanan dan Minuman Jadi Kab. Lampung Barat | 2024)
Perbandingan Pertumbuhan Antar Wilayah
Selain Kabupaten Sintang, hanya Kota Singkawang dan Kabupaten Sekadau yang juga mencatat pertumbuhan positif pengeluaran kecantikan pada tahun 2024. Kota Singkawang tumbuh 25,7 persen, sementara Kabupaten Sekadau mengalami kenaikan sedikit sebesar 6,9 persen. Sebanyak 11 kabupaten dan kota lain di Kalimantan Barat justru mengalami penurunan, bahkan Kabupaten Melawi mencatat penurunan sebesar 41,5 persen untuk pos pengeluaran yang sama.
Profil Pengeluaran Makanan Masyarakat
Untuk kategori pengeluaran makanan, Kabupaten Sintang menempati urutan ketiga tertinggi se Kalimantan Barat pada tahun 2024 dengan nilai 775601 Rupiah per kapita per bulan. Angka ini tumbuh 13,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pengeluaran makanan Kota Singkawang yang hanya tumbuh 0,6 persen. Sementara Kota Pontianak masih menjadi wilayah dengan pengeluaran makanan tertinggi di provinsi ini dengan nilai mencapai 894519 Rupiah per kapita setiap bulan.
Catatan Anomali Data Tahun 2023-2024
Terdapat kondisi yang berbeda pada dua tahun terakhir, dimana Kabupaten Sintang mencatat lonjakan pengeluaran kecantikan dua kali lipat lebih besar dibandingkan rata-rata pertumbuhan lima tahun sebelumnya. Selama periode 2018 sampai 2022 rata-rata pertumbuhan tahunan hanya berada di angka 4,9 persen, kemudian melonjak menjadi di atas 40 persen selama dua tahun berturut-turut. Lonjakan ini tidak diikuti oleh sebagian besar wilayah lain di Kalimantan Barat yang justru mengalami penurunan pada periode yang sama.