Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk kebutuhan kecantikan di Kota Parepare mencapai 77324 Rupiah pada tahun 2024. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 15,8 persen dibandingkan tahun 2023, dan menjadi nilai pengeluaran tertinggi yang tercatat sepanjang periode data 2018 sampai 2024 di wilayah ini. Sepanjang tujuh tahun pengamatan, hanya tercatat satu kali penurunan yaitu pada tahun 2021 sebesar 13,6 persen sebelum kembali naik secara konsisten hingga tahun terakhir.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Sabun Mandi di Kota Pekalongan 2018 - 2024)
Dari total pengeluaran per kapita masyarakat, biaya kecantikan menempati porsi sekitar 3,9 persen dari total pengeluaran aneka barang dan jasa. Nilai ini lebih kecil dibandingkan pengeluaran untuk makanan jadi sebesar 219468 Rupiah, rokok dan tembakau sebesar 113748 Rupiah, serta perawatan dasar sebesar 62705 Rupiah per kapita per bulan. Meskipun demikian, pertumbuhan pengeluaran kecantikan secara rata-rata lima tahun terakhir tercatat lebih tinggi dibandingkan sebagian besar pos pengeluaran rumah tangga lainnya.
Sepanjang tahun 2018 sampai 2024, pengeluaran kecantikan di Kota Parepare tercatat naik sebesar 182,9 persen secara kumulatif. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2023 dengan penambahan sebesar 42,3 persen dari tahun sebelumnya. Satu-satunya penurunan yang terjadi pada tahun 2021 merupakan anomali dimana seluruh kategori pengeluaran rumah tangga juga mengalami penyesuaian pada periode tersebut. Setelah tahun 2021, pengeluaran kecantikan kembali naik selama tiga tahun berturut-turut.
Berdasarkan perbandingan wilayah se-Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Parepare menempati peringkat pertama pengeluaran kecantikan pada tahun 2024. Peringkat ini berada di atas Kota Palopo dengan pengeluaran 65640 Rupiah, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan 57622 Rupiah, Kota Makassar 56196 Rupiah serta Kabupaten Luwu Timur 49339 Rupiah. Secara nasional, Kota Parepare berada di urutan ke 14 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia untuk kategori pengeluaran ini.
Kota Makassar
(Baca: Harga Penyediaan Makanan dan Minuman / Restoran di Kabupaten Tulungagung Bulan April Naik 0,5%)
Kota Makassar tercatat memiliki total pengeluaran per kapita tertinggi se-Provinsi Sulawesi Selatan dengan nilai 1803702 Rupiah per bulan pada tahun 2024. Meskipun menempati peringkat pertama untuk total pengeluaran masyarakat, wilayah ini hanya berada di urutan keempat untuk pengeluaran kecantikan. Pertumbuhan pengeluaran bukan makanan di Kota Makassar tercatat sebesar 8,9 persen pada tahun terakhir, dengan porsi pengeluaran makanan masih mendominasi hampir 44 persen dari seluruh biaya rumah tangga.
Kota Palopo
Kota Palopo menempati peringkat kedua untuk pengeluaran kecantikan di Sulawesi Selatan dengan nilai 65640 Rupiah per kapita per bulan tahun 2024. Wilayah ini mencatat pertumbuhan pengeluaran kecantikan sebesar 26,8 persen pada tahun terakhir, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di Kota Parepare. Secara total pengeluaran masyarakat, Kota Palopo berada di peringkat kedua provinsi dengan nilai 1583231 Rupiah per bulan, dimana pertumbuhan pengeluaran makanan mencapai 24,2 persen pada periode yang sama.
Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan
Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan menempati peringkat ketiga pengeluaran kecantikan se-provinsi dengan nilai 57622 Rupiah pada tahun 2024. Wilayah ini mencatat pertumbuhan pengeluaran kecantikan sebesar 10,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk total pengeluaran bukan makanan, kabupaten ini berada di peringkat kelima provinsi dengan pertumbuhan mencapai 33,9 persen pada tahun terakhir, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi untuk kategori tersebut di seluruh Sulawesi Selatan.
Kabupaten Bantaeng
Kabupaten Bantaeng mencatat pertumbuhan pengeluaran kecantikan tertinggi se-Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 yaitu sebesar 58,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, nilai absolut pengeluaran kecantikan di wilayah ini hanya mencapai 40477 Rupiah dan menempati peringkat kesembilan se-provinsi. Wilayah ini juga mencatat pertumbuhan pengeluaran makanan sebesar 34 persen pada tahun yang sama, dan berada di peringkat ketiga provinsi untuk kategori pengeluaran makanan per kapita.