- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) merilis data historis PDB Paritas Daya Beli Kamboja hingga tahun 2024 yang menunjukkan pemulihan kecil setelah periode penurunan bertahun-tahun. Pada tahun 2024 nilai tercatat 1378.41 unit, mengalami pertumbuhan positif 0,39% setelah tiga tahun berturut-turut mengalami kontraksi nilai. Kontraksi yang dimaksud adalah penurunan nilai PDB PPP secara konsisten setiap tahun tanpa ada kenaikan sama sekali pada periode tersebut.
(Baca: PDB Menurut Daya Beli di Polandia 2024)
Tiga tahun terakhir periode 2022-2024 Kamboja mencatat rata-rata pertumbuhan sebesar minus 1,13%. Angka ini sedikit lebih baik dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir 2020-2024 yang tercatat sebesar minus 1,25%. Selama periode 10 tahun terakhir sejak 2015, hanya terjadi 4 tahun dengan pertumbuhan positif, sedangkan 6 tahun sisanya mengalami penurunan nilai.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Kamboja terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
Kenaikan tertinggi PDB PPP Kamboja dalam 10 tahun terakhir terjadi pada tahun 2015 dengan pertumbuhan 2,12%. Sebaliknya penurunan terdalam tercatat pada tahun 2022 dengan nilai kontraksi sebesar 3,37%, yang menjadi anomali terbesar karena penurunan tersebut dua kali lebih dalam dibandingkan rata-rata penurunan seluruh periode 10 tahun.
Selama seluruh periode pengamatan 10 tahun terakhir, posisi peringkat PDB PPP Kamboja di kawasan ASEAN tidak mengalami perubahan sama sekali. Kamboja secara konsisten menempati urutan ke 4 dari 10 negara anggota ASEAN, tidak ada kenaikan maupun penurunan peringkat sejak tahun 2015 hingga data terbaru 2024.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Papua Selatan 2024)
Jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN pada tahun 2024, pertumbuhan PDB PPP Kamboja 0,39% berada di tengah daftar negara. Pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei yang masih mencatat kontraksi, namun masih jauh lebih rendah dibandingkan Laos, Myanmar dan Vietnam yang mencatat pertumbuhan di atas 1%.
Data proyeksi IMF menunjukkan pada tahun 2025 Kamboja akan kembali mengalami kontraksi sebesar 1,18%, sebelum kembali tumbuh positif secara konsisten mulai tahun 2026 hingga 2030. Proyeksi ini menunjukkan bahwa pemulihan kecil yang terjadi pada tahun 2024 bukan awal tren pertumbuhan berkelanjutan, karena masih akan ada penurunan satu tahun ke depan.
Hingga tahun 2030 meskipun akan tumbuh rata-rata 1% per tahun, nilai PDB PPP Kamboja diperkirakan masih tidak akan kembali ke level nilai sebelum tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa guncangan ekonomi yang terjadi mulai tahun 2020 masih memberikan dampak jangka panjang terhadap daya beli riil perekonomian Kamboja.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.959 | +0.19 | |
| Neraca perdagangan (Apr) | 89,10 | -97.32 | |
| Ekspor Migas (Apr) | 1,16 | -9.81 | |
| Impor Migas (Apr) | 4,60 | +45.09 | |
| Ekspor (Apr) | 25,30 | +12.32 | |
| Impor (Apr) | 25,21 | +31.28 | |
| Kunjungan Wisman (Apr) | 1,25 | +14.75 | |
| Inflasi yoy (Mei) | 3,08% | +0.66 | |
| Inflasi mom (Mei) | 0,28% | +0.15 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| NTP (Mei) | 113,79 | +1.34 |