- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) merilis data terbaru PDB Paritas Daya Beli Kamboja tahun 2024 sebesar 1378,41 unit. Data ini menunjukkan terjadi kenaikan tipis sebesar 0,39 persen dibandingkan tahun 2023, mengakhiri empat tahun berturut-turut penurunan nilai yang berlangsung sejak tahun 2020.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Kamboja terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan di Kab. Banjar 2018 - 2024)
Selama tiga tahun terakhir 2022 hingga 2024, rata-rata pertumbuhan PDB PPP Kamboja tercatat minus 1,13 persen per tahun. Angka ini sedikit lebih baik dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir 2020-2024 yang mencatatkan rata-rata pertumbuhan tahunan minus 1,25 persen, namun keduanya masih berada pada zona kontraksi dimana nilai daya beli riil masyarakat terus menyusut setiap periode.
Dalam rentang 10 tahun data historis 2015-2024, nilai PDB PPP Kamboja mencapai titik tertinggi pada tahun 2018 dan 2019 di angka 1468,9 unit. Sementara titik terendah tercatat pada tahun 2023 sebesar 1373,11 unit. Anomali penurunan drastis terjadi pada tahun 2022 dengan kontraksi sebesar 3,37 persen, merupakan penurunan terparah dalam satu dekade terakhir.
Kondisi fluktuatif yang terjadi artinya: pada 5 tahun awal periode 2015-2019 nilai hampir stagnan dengan pertumbuhan maksimal hanya 2 persen per tahun, sejak memasuki tahun 2020 nilai justru terus merosot tajam dan hingga tahun 2024 ini belum pernah kembali ke level sebelum krisis.
Sepanjang seluruh periode 10 tahun data historis hingga tahun 2024, peringkat PDB PPP Kamboja di kawasan ASEAN tetap bertahan di posisi ke-4. Tidak terjadi perubahan peringkat sama sekali baik pada masa pertumbuhan awal dekade maupun masa penurunan setelah tahun 2020.
(Baca: PDB Paritas Daya Beli (PPP) Eswatini 2015 - 2024)
Dibandingkan negara ASEAN lain, pertumbuhan PDB PPP Kamboja tahun 2024 masih lebih baik dibandingkan Brunei Darussalam yang mencatatkan pertumbuhan terburuk kawasan minus 4,25 persen. Namun berdasarkan peringkat nilai tahun terakhir, Kamboja masih berada di bawah Vietnam, Laos dan Indonesia yang menempati tiga peringkat teratas kawasan.
Berdasarkan proyeksi IMF, tahun 2025 Kamboja akan kembali mengalami kontraksi sebesar 1,18 persen sebelum kembali tumbuh perlahan mulai tahun 2026. Hingga tahun 2030 pun, nilai PDB PPP Kamboja diproyeksikan masih belum akan kembali menyentuh level yang dicapai pada tahun 2019, yang artinya pemulihan ekonomi secara daya beli riil membutuhkan waktu lebih dari satu dekade.
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| PDB ADHK (Q4 2025) | 3.474,50 | +0.86 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17 | -0.03 | |
| Neraca perdagangan (Mar) | 3,32 | +160.82 | |
| Ekspor Migas (Mar) | 1,28 | +18.60 | |
| Impor Migas (Mar) | 3,17 | +58.74 | |
| Ekspor (Mar) | 22,53 | +1.62 | |
| Impor (Mar) | 19,21 | -8.08 | |
| Kunjungan Wisman (Feb) | 1,16 | -2.42 | |
| Inflasi yoy (Apr) | 2,42% | -1.06 | |
| Inflasi mom (Mar) | 0,41% | -0.27 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| NTP (Apr) | 112,29 | +0.43 |