- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
International Monetary Fund (IMF) mencatat nilai PDB Paritas Daya Beli (PPP) Kamboja tahun 2024 sebesar 1378.41 unit. Nilai ini menunjukkan kenaikan ringkas dibandingkan tahun 2023 (1373.11 unit), namun masih berada di bawah rata-rata tiga tahun terakhir (2021-2023) yang sebesar sekitar 1392.96 unit. Dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir (2019-2023) yang mencapai sekitar 1416.31 unit, nilai 2024 juga lebih rendah, menunjukkan kondisi ekonomi Kamboja dalam konteks PPP belum pulih ke level sebelum periode penurunan yang dimulai tahun 2020.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Kamboja terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
(Baca: PDB Paritas Daya Beli (PPP) Tonga 2015 - 2024)
Dalam dekade terakhir (2015-2024), nilai PDB PPP Kamboja mengalami peningkatan konsisten dari 2015 (1451.73 unit) hingga puncaknya pada tahun 2019 (1468.9 unit). Setelah itu, terjadi penurunan berturut-turut selama tiga tahun: 2020 turun menjadi 1433.77 unit (pertumbuhan -2.39%), 2021 ke 1426.96 unit (-0.47%), 2022 ke 1378.82 unit (-3.37%), dan 2023 ke 1373.11 unit (-0.41%) sebelum naik kembali sedikit di 2024. Anomali terjadi pada tahun 2020 di mana penurunan signifikan disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19 yang mengganggu aktivitas ekonomi nasional dan perdagangan luar negeri Kamboja.
Secara peringkat regional ASEAN, Kamboja tetap berada di peringkat ke-4 pada tahun 2024, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Peringkat ini berada di bawah Vietnam (peringkat ke-1), Indonesia (ke-2), dan Laos (ke-3), serta di atas Myanmar (ke-5), Filipina (ke-6), Thailand (ke-7), Malaysia (ke-8), Singapura (ke-9), dan Brunei Darussalam (ke-10). Posisinya yang stabil menunjukkan kinerja PDB PPP Kamboja tidak mengalami pergeseran signifikan dibandingkan negara tetangga ASEAN dalam satu tahun terakhir.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit Kota Batam | 2024)
IMF juga memberikan proyeksi nilai PDB PPP Kamboja hingga tahun 2030. Proyeksi tahun 2025 menunjukkan nilai akan turun menjadi 1362.136 unit, yang merupakan kontraksi sebesar 1.18% dibandingkan tahun 2024. Kontraksi ini berarti nilai konversi PPP implisit Kamboja akan menurun, menunjukkan daya beli mata uang lokal relatif terhadap dolar AS akan sedikit menurun pada tahun 2025. Setelah itu, proyeksi menunjukkan pemulihan bertahap: tahun 2026 naik menjadi 1377.081 unit (pertumbuhan 1.1%), 2027 ke 1393.627 unit (1.2%), dan terus meningkat hingga tahun 2030 menjadi 1431.864 unit.
Dibandingkan negara ASEAN lain, kinerja pertumbuhan PDB PPP Kamboja tahun 2024 (0.39%) berada di tengah-tengah. Negara dengan pertumbuhan tertinggi adalah Laos (14.35%), sementara Brunei Darussalam mengalami penurunan terbesar (-4.24%). Kamboja’s pertumbuhan lebih rendah dibandingkan Vietnam (1.70%) dan Myanmar (3.98%), namun lebih tinggi dibandingkan Indonesia (-1.49%), Malaysia (-1.61%), Thailand (-1.45%), dan Brunei Darussalam (-4.24%).