Investasi di pasar saham kerap dipersepsikan menjanjikan imbal hasil besar. Namun pada praktiknya, tidak sedikit investor yang justru menelan kerugian signifikan akibat anjloknya harga saham yang dibeli.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah saham bahkan terpuruk hingga level terendah/dasar, yakni Rp1 per saham, yang secara teknis mencerminkan nilai harga paling bawah. Sampai 4 Februari 2026, terdapat tiga emiten yang harga sahamnya telah menyentuh level Rp1.
Berikut 10 emiten dengan harga saham terendah di BEI per 4 Februari 2026:
- PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT): Rp1 per saham, anjlok 97,5% dari harga IPO
- PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT): Rp1 per saham, turun 99% dari harga IPO
- PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS): Rp1 per saham, merosot 98,4% dari harga IPO
- PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI): Rp2 per saham, jatuh 99,5% dari harga IPO
- PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS): Rp5 per saham, turun 75% dari harga IPO
- PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL): Rp6 per saham, terkoreksi 96% dari harga IPO
- PT Sunindo Adipersada Tbk (TOYS): Rp8 per saham, merosot 97,7% dari harga IPO
- PT Omni Inovasi Indonesia Tbk (TELE): Rp9 per saham, turun 97,1% dari harga IPO
- PT Widodo Pureco Pratama Tbk (WMPP): Rp12 per saham, turun 92,5% dari harga IPO
- PT Indo Pureco Pratama Tbk (IPPE): Rp14 per saham, turun 86% dari harga penawaran perdana
Anjloknya harga saham-saham tersebut membuat investor yang membeli sejak penawaran umum perdana harus menanggung kerugian sangat besar, bahkan hingga mencapai 99% dari nilai investasi awalnya.
Kondisi ini menjadi mencerminkan tingginya risiko berinvestasi di pasar saham, terutama tanpa pengetahuan dan pengelolaan investasi yang memadai.
(Baca: 10 Saham Paling Cuan Sepanjang 2025)