Konflik di Timur Tengah, yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat-Israel ke Iran sejak Februari 2026, berisiko mengganggu produksi pertanian di banyak negara.
Pasalnya, kawasan tersebut memegang peran penting bagi pasokan pupuk global.
Menurut data International Food Policy Research Institute (IFPRI), Timur Tengah menyumbang 36% dari total volume ekspor pupuk urea global selama periode 2023-2025, paling besar dibanding kawasan lain.
Adapun Timur Tengah yang dimaksud di sini hanya mencakup Bahrain, Iran, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
(Baca: Sebulan Perang, Harga Pupuk Urea Global Melonjak pada Maret 2026)
Namun, kini produksi dan pengiriman pasokan dari Timur Tengah terganggu akibat konflik, sehingga harga pupuk global meningkat.
"Dengan Iran membatasi pengiriman melalui Selat Hormuz, harga energi dan pupuk melonjak tajam," kata IFPRI dalam laporan The Iran war’s impacts on global fertilizer markets and food production, 1 April 2026.
"Serangan dari kedua pihak dalam konflik ini telah merusak lokasi produksi dan pusat ekspor, termasuk Kota Industri Ras Laffan di Qatar, dan Pulau Kharg di Iran. Serangan tambahan akan semakin mengurangi pasokan," lanjutnya.
IFPRI menyatakan, lonjakan harga pupuk ini menimbulkan risiko ketahanan pangan, karena bisa berimbas pada berkurangnya penggunaan pupuk dan gangguan panen di berbagai negara.
"Negara-negara yang paling rentan adalah mereka yang sangat bergantung pada pupuk dan gas alam dari Teluk Persia—terutama di Afrika dan Asia Selatan," kata IFPRI.
"Sektor pupuk sangat rentan terhadap guncangan pasokan dan perdagangan di masa depan. Upaya untuk memperkuat ketahanan harus ditingkatkan," kata mereka.
(Baca: Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Pangan Global Naik pada Maret 2026)