Menurut laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), total volume timbulan sampah yang tercatat di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 50,06 juta ton.
Dari seluruh sampah tersebut, sekitar 40% tidak terkelola dan sebagiannya berisiko masuk ke laut.
KKP memperkirakan, volume sampah Indonesia yang masuk ke laut pada 2025 mencapai 16,02 juta ton.
"Diperkirakan 16,02 juta ton sampah masuk ke perairan Indonesia. Jumlah ini membuat kondisi laut Indonesia kian rentan," kata Koswara, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, dalam siaran pers (2/9/2025).
(Baca: Sampah Indonesia Didominasi Sisa Makanan dan Plastik pada 2019-2025)
Koswara menyatakan, sampah yang masuk ke laut menimbulkan berbagai kerugian, salah satunya di sektor pariwisata.
"Di Bali, pantai-pantai wisata seperti Kuta, Legian, dan Seminyak kerap dipenuhi sampah kiriman saat musim hujan. Kondisi ini merugikan pariwisata, menurunkan citra destinasi, dan meningkatkan biaya operasional pembersihan," ujarnya.
Laut yang tercemar sampah, terutama sampah plastik, juga menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia dan ekosistem.
"Plastik yang terbuang akan terurai menjadi mikroplastik dan masuk ke rantai makanan. Pada akhirnya, partikel kecil ini bisa masuk ke tubuh manusia," kata Koswara.
"Mikroplastik kini ditemukan dalam garam laut, air minum, bahkan darah manusia. Sementara plastik yang tidak terurai tetap mengendap di lautan, menjadi ancaman jangka panjang bagi ekosistem dan kehidupan biota laut," lanjutnya.
Merespons kondisi ini, KKP meluncurkan program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut Sebasah) yang bertujuan mengurangi aliran sampah ke laut.
"Mulai 2026 dilakukan pengurangan bertahap, hingga pada 2029 volume sampah laut ditekan 50 persen," kata Koswara.
"Program lintas sektor ini mengintegrasikan berbagai upaya yang ada, dengan pendekatan hulu–hilir: dari muara sungai, pesisir, pulau kecil, pelabuhan, hingga aktivitas kapal laut," lanjutnya.
(Baca: Bakar Sampah, Sumber Utama Distribusi Mikroplastik Udara di Indonesia)