Hasil riset Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) di 18 kota Indonesia menunjukkan, aktivitas pembakaran sampah menjadi sumber utama penghasil mikroplastik jenis polimer pada 2025. Proporsi deteksinya mencapai 55,6% dari total kota yang diteliti.
Ecoton menjelaskan, proses pembakaran menghasilkan partikel mikroplastik jenis polyolefin termasuk Polyethylene (PE), Polypropylene (PP), polybutene (PB), PTFE, dan polyester yang terdistribusi di udara melalui jelaga dan abu ringan.
"Temuan ini mengindikasikan bahwa praktik pembakaran sampah terbuka masih menjadi permasalahan serius di kawasan perkotaan Indonesia, terutama di daerah padat penduduk, kawasan industri, dan lingkungan perumahan yang tidak memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai," kata Ecoton di lamannya.
Aktivitas rumah tangga dan penggunaan kemasan plastik sekali pakai juga memberikan kontribusi besar, dengan temuan 33,3% di kota yang dianalisis. Ini bisa ditemukan di kota-kota dengan konsumsi tinggi produk plastik, seperti Jakarta, Denpasar, dan Sidoarjo.
"Hal ini memperlihatkan keterkaitan langsung antara perilaku konsumsi masyarakat dan peningkatan beban mikroplastik di atmosfer," kata Ecoton.
Selanjutnya, aktivitas industri dan konstruksi ditemukan hingga 27,8%. Ecoton menyebut, temuan ini marak terjadi di kota dengan kawasan industri besar, seperti Bandung, Surabaya, Palembang, dan Pontianak. Rincian aktivitasnya, yakni penggunaan resin sintetis, cat berbasis polimer, serta bahan bangunan yang mengandung plastik.
Berikutnya ada sumber dari laundry dan tekstil, transportasi, kegiatan pariwisata, hingga pertanian. Adapun daftar lengkapnya sebagai berikut:
- Bakar sampah: 55,6%
- Rumah tangga dan penggunaan plastik: 33,3%
- Industri dan konstruksi: 27,8%
- Laundry dan tekstil domestik: 22,2%
- Transportasi (gesekan ban, aspal, dan rel KRL): 16,7%
- Aktivitas pariwisata: 11,1%
- Perikanan dan pesisir: 5,6%
- Pertanian: 5,6%.
(Baca: Timbulan Sampah di Tangsel Cenderung Meningkat hingga 2024)