Menurut data Copernicus Climate Change Service (C3S), rata-rata suhu global pada tahun 2025 naik 1,47 derajat Celsius (°C) dibanding rata-rata suhu era pra-industri (1850-1900).
Kenaikan suhu yang lebih tinggi dari ini hanya pernah terjadi pada 2024, ketika rata-rata suhu global naik 1,6 °C, serta tahun 2023 yang kenaikan suhunya 1,48 °C.
"Tahun 2025 menempati peringkat ketiga sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat," kata C3S dalam laporan 2025 Global Climate Highlights.
C3S menyatakan, kenaikan suhu global ini beriringan dengan mencairnya lapisan es di lautan dan munculnya fenomena cuaca ekstrem.
"Peristiwa ekstrem pada tahun 2025 berdampak signifikan pada kesehatan manusia, ekosistem, dan infrastruktur. Contoh peristiwa yang paling luar biasa adalah banjir, panas ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan," kata mereka.
(Baca: Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca Global sampai 2024)
Menurut C3S, rekor kenaikan suhu global yang terjadi selama periode 2023-2025 dipengaruhi oleh dua faktor utama.
Pertama, penumpukan emisi gas rumah kaca di atmosfer. Kedua, naiknya suhu permukaan laut di seluruh samudra terkait peristiwa El Nino, yang efeknya makin kuat akibat perubahan iklim.
"Aktivitas manusia tetap menjadi pendorong utama suhu luar biasa yang kami amati. Gas rumah kaca di atmosfer terus meningkat selama 10 tahun terakhir," kata Direktur Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus, Laurence Rouil, dalam siaran pers (14/1/2026).
(Baca: Pembangkit Listrik, Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar Global 2024)
C3S juga menemukan, sebelas tahun terakhir, yakni 2015-2025, menjadi periode terpanas sepanjang sejarah dengan kenaikan suhu yang konsisten di atas 1 °C per tahun.
"Fakta bahwa sebelas tahun terakhir adalah tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat menjadi bukti adanya tren menuju iklim yang lebih panas," kata Direktur C3S Carlo Buontempo dalam siaran pers (14/1/2026).
"Pilihan yang kita miliki sekarang adalah bagaimana mengelola kenaikan suhu beserta konsekuensinya terhadap masyarakat dan alam dengan sebaik-baiknya," kata Carlo.
(Baca: Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia Terbesar ke-6 Global pada 2024)