Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran yang meletus akhir Februari 2026 memicu kekhawatiran akan penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran di Timur Tengah yang melewati sebagian wilayah Iran, yang memiliki peran penting dalam perdagangan minyak global.
"Selat ini cukup dalam dan lebar untuk menampung kapal tanker minyak mentah terbesar, dan merupakan salah satu jalur transportasi minyak terpenting di dunia," kata U.S. Energy Information Administration (EIA) dalam laporan Amid regional conflict, the Strait of Hormuz remains critical oil chokepoint (Juni 2025).
"Volume minyak yang besar mengalir melalui selat ini, dan jika selat ditutup, pilihan alternatif untuk mengirim minyak keluar sangat sedikit," lanjutnya.
(Baca: Perang AS-Israel dengan Iran Makan Korban di Banyak Negara)
Menurut data EIA, pada kuartal I 2025, volume pasokan minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz mencapai 20,1 juta barel per hari (gabungan minyak mentah, kondensat, dan produk minyak).
Angka tersebut setara dengan 19,69% atau kira-kira seperlima dari total konsumsi minyak global.
Pada kuartal I 2025, arus pasokan minyak yang melewati Selat Hormuz paling banyak dikirim ke China, dengan volume 5,35 juta barel per hari (gabungan minyak mentah dan kondensat, tidak termasuk produk minyak).
Selama periode 2020—2024 China juga konsisten menjadi negara tujuan pengiriman minyak terbesar lewat jalur ini, diikuti India, Korea Selatan, dan Jepang.
Sedangkan pengiriman ke negara-negara di luar Asia, seperti Eropa dan Amerika Serikat, hanya sedikit seperti terlihat pada grafik.
"China, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan tujuan utama minyak mentah yang mengalir melalui Selat Hormuz ke Asia. Pasar-pasar ini kemungkinan besar akan paling terpengaruh oleh gangguan pasokan di Hormuz," kata EIA.
(Baca: Jika Selat Hormuz Tutup, Pasokan Minyak Global Terganggu)