Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah penyakit hantavirus secara global pada 2026 sampai pekan ke-16 atau April sebanyak 59 kasus.
Hantavirus adalah virus yang bisa menyebabkan gangguan paru-paru dan ginjal. Penyakit ini tergolong zoonosis karena ditularkan melalui hewan pengerat, salah satunya tikus.
Jika dihitung sejak 2025, kasus hantavirus global mencapai 387 kasus. Jumlah ini terkonfirmasi di 10 negara, yaitu Argentina, Chili, Bolivia, Brasil, Panama, Paraguay, Uruguay, Amerika Serikat, Taiwan, dan Indonesia.
Secara historis, kasus penyakit hantavirus global berfluktuatif selama periode 2015-2020, dengan jumlah tertinggi terjadi pada 2017 yang sebanyak 4.362 kasus.
Sementara, sejak 2021 hingga April 2026, jumlah kasus penyakit hantavirus secara global mengalami penurunan yang signifikan, sebagaimana terlihat pada grafik.
Sebelumnya, per 8 Mei 2026, World Health Organization (WHO) melaporkan ada 8 kasus hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius, yang sedang berlayar dari Argentina menuju Kepulauan Canary, Spanyol.
Sebanyak 6 orang di antaranya terkonfirmasi positif, lalu 2 orang berstatus suspek atau diduga terinfeksi. Dari seluruh kasus ini, 3 orang di antaranya meninggal.
Menurut WHO, kasus hantavirus relatif jarang ditemukan secara global. Namun, penyakit ini memiliki tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) yang tinggi, terutama di kawasan Amerika.
“Infeksi hantavirus dikaitkan dengan angka kematian kasus sebesar <1–15% di Asia dan Eropa, dan hingga 50% di Amerika,” kata WHO dalam laporan Disease Outbreak News edisi 8 Mei 2026.
Penyakit hantavirus ditandai sakit kepala, pusing, menggigil, demam, mialgia (nyeri otot), dan gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut, diikuti gangguan pernapasan mendadak dan hipotensi (tekanan darah rendah).
Gejalanya biasanya muncul antara 1-6 minggu, tapi bisa juga sampai 8 minggu, setelah paparan awal terhadap virus.
(Baca: Kasus Positif Hantavirus RI Terbanyak di Jakarta-Jogja sampai April 2026)