Kementerian Kesehatan memetakan prevalensi anak balita (usia 0-59 bulan) yang mengalami masalah gizi di Indonesia, mencakup:
- Stunting: Anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibanding rata-rata seusianya, akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang.
- Underweight: Anak memiliki berat badan yang lebih rendah dibanding rata-rata seusianya, akibat kekurangan gizi akut.
- Wasting: Anak memiliki berat badan yang rendah dibanding tinggi badannya, akibat kekurangan gizi akut.
- Overweight: Anak memiliki berat badan berlebih dibanding berat badan ideal seusianya, akibat ketidakseimbangan asupan gizi.
- Severe wasting: Anak mengalami wasting yang parah, akibat gizi buruk.
Secara nasional, prevalensi balita Indonesia yang mengalami stunting mencapai 19,8% pada 2024.
Kemudian prevalensi balita dengan kondisi underweight 16,8%, wasting 6,2%, overweight 3,4%, dan severe wasting 1,2%.
(Baca: Angka Stunting Indonesia Terus Berkurang sampai 2024)
Jika dipecah per provinsi, prevalensi balita stunting tertinggi pada 2024 berada di Papua Pegunungan (40%).
Kemudian prevalensi balita underweight tertinggi berada di Nusa Tenggara Timur (34,4%), yang juga memiliki prevalensi balita wasting paling besar (12,3%).
Sementara, prevalensi balita overweight tertinggi berada di Papua Pegunungan (10,3%), dan prevalensi balita severe wasting tertinggi di Papua Barat Daya (3,7%).
Adapun prevalensi wasting dan severe wasting di Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan tercatat dengan angka "0" karena datanya tidak tersedia.
Kementerian Kesehatan memperoleh data ini berdasarkan survei di 514 kabupaten/kota yang tersebar di 38 provinsi Indonesia, dengan melibatkan sampel 345 ribu rumah tangga yang memiliki anak balita.
(Baca: Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan di 38 Provinsi Indonesia 2025)