Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia melakukan impor minyak dan gas (migas) seberat 55,33 juta ton pada 2025, dengan nilai total US$32,77 miliar.
Impor migas Indonesia paling banyak berasal dari Singapura dan Malaysia.
Jika digabung, dua negara tetangga ini menyumbang 41% dari total impor migas nasional.
Berikut rincian volume impor migas Indonesia berdasarkan negara asal pada 2025:
- Singapura: 14,63 juta ton (26,4% dari total volume impor migas Indonesia)
- Malaysia: 8,20 juta ton (14,8%)
- Amerika Serikat (AS): 5,99 juta ton (10,8%)
- Arab Saudi: 4,77 juta ton (8,6%)
- Nigeria: 4,63 juta ton (8,4%)
- Uni Emirat Arab: 1,73 juta ton (3,1%)
- Qatar: 1,33 juta ton (2,4%)
- Australia: 1,32 juta ton (2,4%)
- China: 830,1 ribu ton (1,5%)
- Korea Selatan: 360,2 ribu ton (0,7%)
- Negara-negara lainnya: 11,54 juta ton (20,9%)
(Baca: Perjanjian Prabowo-Trump, RI Harus Impor Produk Industri dan Energi AS)
Adapun pada 2026, Indonesia berencana mengurangi porsi impor migas dari sejumlah negara, lalu menggantinya dengan pasokan dari AS.
Rencana ini muncul setelah Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump menandatangani perjanjian dagang yang disebut Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Dalam perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen mengimpor liquefied petroleum gas (LPG) dari AS senilai US$3,5 miliar, minyak mentah US$4,5 miliar, dan produk BBM olahan US$7 miliar.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, komitmen ini akan mengubah tren belanja migas Indonesia.
"Yang kita alokasikan untuk membeli BBM di AS bukan berarti kita menambah volume impor, namun kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara dari Asia Tenggara, Timur Tengah, maupun beberapa negara di Afrika," kata Bahlil dalam siaran pers, Jumat (20/2/2026).
"Secara keseluruhan, neraca komoditas pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama, cuma kita geser," ujarnya.
(Baca: Imbas Perjanjian Dagang, Nilai Impor RI dari AS Bisa Melonjak 150%)