Menurut Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Danantara akan berinvestasi di 18 proyek hilirisasi.
Total nilai investasinya diperkirakan mencapai US$38,63 miliar atau sekitar Rp618 triliun.
"Ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, pembangunan beberapa titik DME [dimethyl ether]. Kemudian juga ada program-program di bidang pertanian," kata Prasetyo dalam konferensi pers, diberitakan Katadata.co.id, Kamis (15/1/2026).
Prasetyo menyatakan, proyek-proyek ini ditargetkan bisa dimulai pada Februari dan Maret 2026.
Pada tahap awal, pengerjaan akan berfokus di enam proyek, salah satunya gasifikasi batu bara menjadi DME.
Proyek DME ini juga diperkirakan menerima investasi terbesar dari Danantara, dengan nilai Rp164 triliun.
(Baca: DME Bakal Gantikan LPG, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?)
Berikut estimasi nilai investasi Danantara di 18 proyek hilirisasi, berdasarkan data yang dihimpun Katadata.co.id pada Januari 2026:
- Industri DME (batu bara): Rp164 triliun
- Oil refinery: Rp160 triliun
- Oil storage tanks: Rp72 triliun
- Industri smelter aluminium (bauksit): Rp60 triliun
- Industri stainless steel slab (nikel): Rp38,4 triliun
- Modul surya terintegrasi (bauksit dan silika): Rp24 triliun
- Industri copper rod, wire & tube (katoda tembaga): Rp19,2 triliun
- Industri besi baja (pasir besi): Rp19 triliun
- Industri chemical grade alumina (bauksit): Rp17,3 triliun
- Industri chlor alkali plant (garam): Rp16 triliun
- Industri bioavtur (used cooking oil): Rp16 triliun
- Industri mangan sulfat (mangan): Rp3,05 triliun
- Industri oleofood (kelapa sawit): Rp3 triliun
- Industri nata de coco, CMT, coconut flour, activated carbon (kelapa): Rp2,3 triliun
- Industri oleoresin (pala): Rp1,8 triliun
- Industri aspal: Rp1,49 triliun
- Industri fillet tilapia (ikan tilapia): Rp1 triliun
- Industri carrageenan (rumput laut): Rp212 miliar
(Baca: Indonesia Bergantung pada LPG Impor sampai 2024)