Pemerintah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada Sabtu (3/1/2026).
Dalam siaran pers Senin (5/1/2026), kantor kepresidenan AS, The White House, menyatakan penangkapan Maduro ini sebagai kemenangan.
"Presiden Donald J. Trump mencetak kemenangan luar biasa dalam kebijakan luar negeri: penangkapan dan ekstradisi Nicolas Maduro, terdakwa teroris narkoba dan diktator sosialis yang menjerumuskan Venezuela ke dalam kekacauan, membuat rakyatnya kelaparan, dan mengancam keamanan Amerika," kata mereka.
(Baca: Venezuela, Negara Pemilik Cadangan Minyak Terbesar Global pada 2024)
Merujuk data Bank Dunia, perekonomian Venezuela memang cenderung melemah pada era kepemimpinan Nicolas Maduro.
Hal ini salah satunya terlihat dari berkurangnya foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung di negara tersebut.
Sebelumnya, selama periode 1999-2012, saat Venezuela masih dipimpin Presiden Hugo Chavez, nilai investasi asing yang masuk ke Venezuela secara rata-rata mencapai US$2,54 miliar per tahun.
Kemudian setelah Nicolas Maduro menjabat, selama periode 2013-2024, investasi asing turun menjadi rata-rata US$1,29 miliar per tahun, dengan fluktuasi seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Venezuela Masuk Jajaran Negara Paling Korup Sedunia)
Menurut Kedutaan Besar Swiss di Venezuela, iklim investasi di negara tersebut pada era Nicolas Maduro tergolong berisiko tinggi.
"Meski kerangka hukum Venezuela secara teknis mengizinkan investasi asing, risiko politik dan ekonomi makro sangat tinggi," kata Kedutaan Besar Swiss dalam laporan Economic Report 2024/2025 Venezuela.
"Terlepas dari retorika pemerintah tentang keterbukaan ekonomi, gabungan dari dampak sanksi internasional, ketidakstabilan politik, ketidakpastian hukum, dan infrastruktur yang rapuh membuat Venezuela terus berada di pinggiran rantai investasi global," kata mereka.
(Baca: Indeks Demokrasi Venezuela Rendah, Tergolong Negara Otoriter)