KLHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 289 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 16 April 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 289 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 22 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (16/4/2026) pukul 11.35 WIB. Dari 289 titik panas terdeteksi, 5 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 278 titik skala sedang, dan 6 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Penerima Rumah Susun 2022, Terbanyak Korban Bencana Alam)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Papua Tengah sebanyak 36 titik. Maluku Utara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 35 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 30 titik panas.
Sebanyak 27 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tenggara, Maluku menyusul dengan 18 titik panas, serta Aceh dan Jawa Timur masing-masing memiliki 17 dan 14 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Jumlah Korban Luka karena Bencana Alam di Indonesia 2015-2024)