Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan Kabupaten Blora tahun 2024 menunjukkan persentase penduduk miskin sedikit turun menjadi 11,42 persen, dari 11,49 persen tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin di kabupaten ini juga sedikit turun menjadi 99.140 orang, sementara jumlah penduduk keseluruhan naik menjadi 925.434 jiwa dengan pertumbuhan 1,05 persen. Posisi persentase kemiskinan Blora berada di urutan ke-31 di Pulau Jawa dan ke-193 se-Indonesia tahun ini.
(Baca: Lima Gempa Bumi Terakhir yang Tercatat di BMKG (Minggu, 01 Maret 2026 10:19:12 WIB))
Data historis kemiskinan Blora periode 2004-2024 menunjukkan persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar 23,95 persen, sedangkan terendah pada tahun 2024 sebesar 11,42 persen. Pertumbuhan persentase kemiskinan terendah terjadi pada tahun 2018 dengan penurunan 8,74 persen, sedangkan tertinggi pada tahun 2006 dengan kenaikan 10,22 persen. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 11,48 persen, lebih tinggi dari tahun 2024. Rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) adalah 11,76 persen, juga lebih tinggi dari tahun ini. Posisi rank se-Indonesia Blora membaik dari urutan ke-130 tahun 2004 ke ke-193 tahun 2024, artinya persentase kemiskinannya lebih rendah dibandingkan lebih banyak kabupaten lain.
Dibandingkan kabupaten tetangga di Jawa Tengah, persentase kemiskinan Blora tahun 2024 (11,42 persen) berada di posisi tengah. Hanya dua kabupaten memiliki persentase lebih tinggi, yaitu Kabupaten Banyumas (11,95 persen) dan Demak (11,89 persen). Sementara itu, empat kabupaten lain memiliki persentase lebih rendah: Grobogan (11,43 persen, sedikit lebih tinggi dari Blora), Magelang (10,83 persen), Purworejo (10,87 persen), dan Wonogiri (10,71 persen). Jumlah penduduk miskin Blora (99.140 orang) lebih sedikit dibandingkan Banyumas, Demak, Grobogan, Magelang, dan Wonogiri, tetapi lebih banyak dari Purworejo.
Kabupaten Banyumas
Urutan persentase kemiskinan berada di ke-171 se-Indonesia, dengan angka 11,95 persen tahun 2024. Jumlah penduduk miskinnya mencapai 207.780 orang, yang jauh lebih banyak dibandingkan Blora, seiring dengan jumlah penduduk keseluruhan yang juga lebih besar yaitu 1.864.665 jiwa. Garis kemiskinan di sini sebesar Rp500.861 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 4,56 persen tahun terakhir. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah Rp40,15 juta per tahun, yang lebih tinggi dari rata-rata kabupaten tetangga lainnya, menunjukkan daya beli yang lebih baik meskipun persentase kemiskinan masih lebih tinggi dari Blora. Pertumbuhan jumlah penduduk miskinnya turun sedikit sebesar 4,03 persen, yang merupakan penurunan yang lebih signifikan dibandingkan Blora.
Kabupaten Demak
Rank se-Indonesia persentase kemiskinan adalah ke-175, dengan angka 11,89 persen tahun 2024. Jumlah penduduk miskinnya sebesar 142.920 orang, lebih banyak dari Blora, dengan jumlah penduduk keseluruhan 1.250.863 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah Rp535.134 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 4,69 persen tahun lalu. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah Rp28,30 juta per tahun, yang lebih rendah dibandingkan Banyumas dan Wonogiri. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sedikit sebesar 1 persen, yang lebih kecil dibandingkan penurunan di Blora. Jumlah penduduknya tumbuh sebesar 0,6 persen, lebih lambat dari Blora.
Kabupaten Grobogan
(Baca: Harga Karet Tsr20 - Rubber Tsr20 Futures - Pagi Hari Diperdagangkan US$204,8 /100 Kg (Kamis, 26 Februari 2026))
Urutan persentase kemiskinan di sini adalah ke-192 se-Indonesia, dengan angka 11,43 persen tahun 2024, yang sedikit lebih tinggi dari Blora. Jumlah penduduk miskinnya mencapai 159.000 orang, lebih banyak dari Blora, dengan jumlah penduduk keseluruhan 1.517.987 jiwa. Garis kemiskinan di kabupaten ini sebesar Rp489.208 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 5,29 persen tahun terakhir. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah Rp24,90 juta per tahun, yang merupakan yang terendah di antara kabupaten tetangga Blora. Pertumbuhan jumlah penduduk miskinnya turun sebesar 2,17 persen, yang lebih signifikan dari penurunan di Blora, menunjukkan upaya penanggulangan kemiskinan yang lebih efektif dalam satu tahun terakhir.
Kabupaten Magelang
Rank se-Indonesia persentase kemiskinan adalah ke-207, dengan angka 10,83 persen tahun 2024, yang lebih rendah dari Blora. Jumlah penduduk miskinnya sebesar 143.800 orang, lebih banyak dari Blora, dengan jumlah penduduk keseluruhan 1.337.411 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah Rp431.289 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 4,90 persen tahun lalu. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah Rp32,60 juta per tahun, yang berada di posisi tengah antara kabupaten tetangga lainnya. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun sebesar 1,19 persen, yang lebih besar dari penurunan di Blora, menunjukkan peningkatan kondisi kemiskinan yang lebih baik dalam satu tahun terakhir.
Kabupaten Purworejo
Urutan persentase kemiskinan di sini adalah ke-205 se-Indonesia, dengan angka 10,87 persen tahun 2024, lebih rendah dari Blora. Jumlah penduduk miskinnya hanya 78.020 orang, yang jauh lebih sedikit dibandingkan Blora, seiring dengan jumlah penduduk keseluruhan yang lebih kecil yaitu 809.121 jiwa. Garis kemiskinan di kabupaten ini sebesar Rp459.253 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan tertinggi di antara kabupaten tetangga yaitu 7,40 persen tahun terakhir. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah Rp31,20 juta per tahun, yang sedikit lebih rendah dari Magelang. Pertumbuhan jumlah penduduk miskinnya turun sebesar 4,01 persen, yang merupakan penurunan yang cukup signifikan, menunjukkan upaya penanggulangan kemiskinan yang berjalan dengan baik.
Kabupaten Wonogiri
Rank se-Indonesia persentase kemiskinan adalah ke-216, dengan angka 10,71 persen tahun 2024, yang merupakan yang terendah di antara kabupaten tetangga Blora. Jumlah penduduk miskinnya sebesar 102.570 orang, sedikit lebih banyak dari Blora, dengan jumlah penduduk keseluruhan 1.063.902 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah Rp443.563 per kapita per bulan, dengan pertumbuhan 6,91 persen tahun lalu. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah Rp37,72 juta per tahun, yang lebih tinggi dari sebagian besar kabupaten tetangga lainnya kecuali Banyumas. Pertumbuhan jumlah penduduk miskinnya turun sebesar 2,15 persen, yang lebih signifikan dari penurunan di Blora, menunjukkan kemajuan yang lebih baik dalam mengurangi jumlah penduduk miskin.