Mayoritas warga Asia Tenggara menganggap perubahan iklim dan peningkatan peristiwa cuaca ekstrem sebagai tantangan paling mendesak di kawasan ini pada awal 2026.
Hal tersebut mengacu temuan dalam The State of Southeast Asia 2026 Survey Report yang dirilis ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Menurut ISEAS-Yusof Ishak Institute, kekhawatiran tersebut menandakan meningkatnya kesadaran publik terhadap dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan akibat kekeringan, banjir, topan, dan naiknya permukaan laut.
"Di tingkat negara, perubahan iklim merupakan tantangan utama bagi warga Filipina (71,1% responden), Indonesia (67,4%), Laos (65,2%), Brunei (63,9%), Timor-Leste (62,7%), dan Vietnam (62,5%)," kata ISEAS-Yusof Ishak Institute dalam laporannya.
Di samping perubahan iklim, ada cukup banyak warga Asia Tenggara yang khawatir dengan meningkatnya ketegangan ekonomi antara pihak-pihak berkekuatan besar.
"Ketakutan akan resesi masih lebih besar dibanding kekhawatiran ketegangan ekonomi di beberapa negara anggota, terutama Indonesia (55,5%) dan Brunei (52,3%)," kata ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Berikut rincian persepsi warga tentang tantangan utama yang dihadapi Asia Tenggara pada awal 2026, menurut survei ISEAS-Yusof Ishak Institute:
- Perubahan iklim dan peristiwa cuaca yang lebih ekstrem (misalnya kekeringan, banjir, topan, kenaikan permukaan laut): 60%
- Meningkatnya ketegangan ekonomi antarkekuatan besar: 51,7%
- Ketidakstabilan politik dalam negeri (misalnya ketegangan etnis dan agama, korupsi): 46,1%
- Pengangguran dan resesi ekonomi: 45,9%
- Meningkatnya ketegangan militer yang timbul dari potensi titik api (misalnya Laut Cina Selatan, Selat Taiwan, Semenanjung Korea): 42,3%
- Kesenjangan sosio-ekonomi yang melebar dan ketimpangan pendapatan yang meningkat: 32,6%
- Terorisme dan ekstremisme: 13,9%
- Memburuknya kondisi hak asasi manusia: 7,4%
ISEAS-Yusof Ishak Institute melakukan survei ini secara daring pada 5 Januari-20 Februari 2026 dengan metode mixed purposive sampling.
Respondennya berjumlah 2.008 orang yang tersebar di 11 negara Asia Tenggara, dengan kriteria usia minimal 18 tahun.
Responden berasal dari lima kategori afiliasi: (a) akademisi, anggota lembaga think tank, atau peneliti; (b) perwakilan sektor swasta; (c) perwakilan masyarakat sipil, LSM, atau media; (d) pejabat pemerintah; dan (e) staf organisasi regional atau internasional.
(Baca: Suhu Global Naik pada 2025, Terpanas Ketiga Sepanjang Sejarah)