Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan Kabupaten Bombana tahun 2024, menunjukkan persentase penduduk miskin sedikit turun menjadi 10,54 persen dari 10,73 persen tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin naik sedikit menjadi 20.560 orang, sedangkan jumlah penduduk total mencapai 166.134 jiwa dengan pertumbuhan 2,88 persen. Persentase kemiskinan ini menempatkan Kabupaten Bombana pada peringkat 223 se-Indonesia dan 45 di Pulau Sulawesi.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Hulu Sungai Utara Periode 2004 - 2024)
Dari data historis 2005-2024, persentase kemiskinan Kabupaten Bombana mencapai tertinggi pada tahun 2006 sebesar 22,6 persen dan terendah pada tahun 2020 sebesar 10,01 persen. Pertumbuhan persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada 2006 (8,5 persen) dan terendah pada 2012 (-12,74 persen). Dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2021-2023) sebesar 10,58 persen, angka 2024 sedikit lebih rendah. Namun, dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir (2019-2023) sebesar 10,46 persen, angka 2024 sedikit lebih tinggi. Peringkat kemiskinan se-Indonesia juga sedikit membaik dari 231 pada 2023 ke 223 pada 2024.
Kota Bau Bau
Wilayah ini berada pada peringkat 329 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan sebesar 7,4 persen, dengan pertumbuhan sedikit turun turun 1,73 persen. Jumlah penduduk miskin mencapai 13.250 orang dari total penduduk 162.377 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah 431,72 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 72,42 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk kota ini sebesar 1,34 persen, lebih rendah dibandingkan Kabupaten Bombana.
Kota Kendari
Sebagai ibukota provinsi, wilayah ini memiliki persentase kemiskinan terendah di antara tetangga sebesar 4,23 persen, dengan peringkat 472 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskinnya 18.200 orang dari total penduduk 355.665 jiwa, dengan pertumbuhan kemiskinan turun turun 5,41 persen. Garis kemiskinan di kota ini adalah 516,81 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita mencapai 80,97 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduknya sebesar 2,38 persen, sedikit lebih rendah dari Kabupaten Bombana.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin di Perdesaan Periode 2013-2025)
Kabupaten Kolaka
Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan sebesar 11,67 persen, peringkat 185 se-Indonesia, dengan pertumbuhan sedikit turun turun 1,1 persen. Jumlah penduduk miskinnya mencapai 33.200 orang dari total penduduk 252.003 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah 477,92 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 153,41 juta rupiah per tahun—yang tertinggi di antara wilayah tetangga. Pertumbuhan penduduknya sebesar 2,49 persen, lebih rendah dari Kabupaten Bombana.
Kabupaten Konawe Selatan
Persentase kemiskinan di wilayah ini sebesar 11,2 persen, peringkat 199 se-Indonesia, dengan pertumbuhan sedikit turun turun 0,53 persen. Jumlah penduduk miskinnya 37.090 orang dari total penduduk 326.944 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah 354,70 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita mencapai 53,95 juta rupiah per tahun—yang terendah di antara wilayah tetangga. Pertumbuhan penduduknya sebesar 2,02 persen, lebih rendah dari Kabupaten Bombana.
Kabupaten Konawe Utara
Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan tertinggi di antara tetangga sebesar 13,17 persen, peringkat 142 se-Indonesia, dengan pertumbuhan turun turun 2,3 persen. Jumlah penduduk miskinnya 8.940 orang dari total penduduk 81.355 jiwa. Garis kemiskinan di sini adalah 407,71 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita mencapai 77,30 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduknya sebesar 5,12 persen—yang tertinggi di antara wilayah tetangga, jauh lebih tinggi dari Kabupaten Bombana.