Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan Kota Bukit Tinggi tahun 2024, dengan persentase kemiskinan sebesar 4,08 persen yang sedikit turun dibanding tahun 2023 (4,11 persen). Jumlah penduduk miskin mencapai 5.820 orang, sementara jumlah penduduk keseluruhan sebesar 140.089 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 3,4 persen. Pertumbuhan persentase kemiskinan turun 0,73 persen, menempati urutan ke-143 di Pulau Sumatera dan ke-477 se-Indonesia.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Deiyai Periode 2010 - 2024)
Dari data historis 2004-2024, persentase kemiskinan Kota Bukit Tinggi terendah pada 2004 (3,32 persen) dan tertinggi pada 2008 (7,2 persen). Pertumbuhan kemiskinan terendah pada 2009 (-14,03 persen) dan tertinggi pada 2005 (49,7 persen). Persentase 2024 lebih rendah dibanding rata-rata 3 tahun terakhir (4,57 persen) dan rata-rata 5 tahun terakhir (4,57 persen). Urutan kemiskinan se-Indonesia bergeser dari 409 pada 2004 ke 477 pada 2024, menunjukkan penurunan kemiskinan.
Dibandingkan kabkota sekitar di Sumatera Barat, persentase kemiskinan Kota Bukit Tinggi (4,08 persen) berada di posisi menengah. Kota Sawahlunto memiliki persentase terendah (2,33 persen), sedangkan Kota Payakumbuh memiliki persentase tertinggi (5,19 persen) di antara wilayah tersebut. Jumlah penduduk miskin Kota Bukit Tinggi lebih banyak dibanding Kota Pariaman (4.010 orang) dan Kota Sawahlunto (1.520 orang), namun lebih sedikit dibanding Kota Payakumbuh (7.620 orang) dan Kabupaten Tanah Datar (15.000 orang).
Kota Padang
Persentase kemiskinan sebesar 4,06 persen dengan pertumbuhan sedikit turun turun 2,64 persen, menempati urutan ke-479 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 41.400 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 939.851 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 1,22 persen. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 88,23 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 736,79 ribu rupiah per kapita per bulan. Dibandingkan Kota Bukit Tinggi, Kota Padang memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih besar, namun persentase kemiskinan yang sedikit lebih rendah, serta pendapatan per kapita yang lebih tinggi dan garis kemiskinan yang lebih tinggi pula.
Kota Pariaman
Persentase kemiskinan sebesar 4,26 persen dengan pertumbuhan sedikit naik sebesar 1,43 persen, menempati urutan ke-470 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 4.010 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 102.765 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 3,3 persen. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 69,17 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 609,29 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan yang sedikit lebih tinggi dibanding Kota Bukit Tinggi, namun jumlah penduduk miskin yang lebih sedikit karena jumlah penduduk keseluruhan yang lebih kecil.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Kecantikan Kota Makassar | 2024)
Kota Payakumbuh
Persentase kemiskinan sebesar 5,19 persen dengan pertumbuhan sedikit turun turun 3,3 persen, menempati urutan ke-435 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 7.620 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 147.963 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 2,24 persen. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 64,21 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 648,23 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan yang lebih tinggi dibanding Kota Bukit Tinggi, bahkan menjadi tertinggi di antara wilayah sekitar di Sumatera Barat, meskipun jumlah penduduknya hanya sedikit lebih besar.
Kota Sawahlunto
Persentase kemiskinan sebesar 2,33 persen dengan pertumbuhan sedikit naik sebesar 3,4 persen, menempati urutan ke-512 se-Indonesia (terendah di antara wilayah sekitar). Jumlah penduduk miskin mencapai 1.520 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 68.516 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 0,68 persen. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 73,60 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 524,20 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini menjadi contoh wilayah dengan kemiskinan terendah di sekitar Kota Bukit Tinggi, dengan jumlah penduduk yang paling kecil dan pendapatan per kapita yang cukup tinggi dibanding sebagian besar wilayah sekitar.
Kota Solok
Persentase kemiskinan sebesar 3,07 persen dengan pertumbuhan sedikit naik sebesar 0,66 persen, menempati urutan ke-503 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 2.400 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 83.907 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 5,27 persen. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 69,99 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 569,87 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan yang lebih rendah dibanding Kota Bukit Tinggi, dengan jumlah penduduk yang lebih kecil dan pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dibanding wilayah sekitar lainnya.
Kabupaten Tanah Datar
Persentase kemiskinan sebesar 4,28 persen dengan pertumbuhan sedikit naik sebesar 2,95 persen, menempati urutan ke-469 se-Indonesia. Jumlah penduduk miskin mencapai 15.000 orang, dengan jumlah penduduk keseluruhan 382.333 jiwa yang tumbuh sedikit sebesar 1,06 persen. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 45,07 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 554,67 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki persentase kemiskinan yang sedikit lebih tinggi dibanding Kota Bukit Tinggi, dengan jumlah penduduk miskin yang paling banyak di antara wilayah sekitar karena jumlah penduduk keseluruhan yang besar.